Esai: Sosialisasi Karya Sastra (1): Surat Kabar dan Horison yang Kehilangan Peran

Sosialisasi Karya Sastra (1)
Surat Kabar dan Horison yang Kehilangan Peran

Oleh Hasan Aspahani

ADA masanya jalan sosialisasi karya bagi seorang menjadi pengarang di Indonesia adalah dimuat di majalah Horison (yang menjadi semacam sertifikat pengakuan kepengarangan) lalu mendapat jalan ke surat kabar atau menerbitkan buku.

Itu disebut Jassin dalam catatan kebudayaan di Horison Februari 1989. Atau, sebaliknya, kata Jassin, pengarang berlatih menulis di surat kabar dan majalah lalu mendapat jalan ke Horison.

Pada tahun-tahun itu Horison memang tak lagi sendiri sebagai panggung bagi pengarang Indonesia unjuk kemampuan berupa karya sastra. Dan sesungguuhnya itu menggembirakan, bagus, dan sehat.

Jassin mencatat, di Jakarta kala itu ada Kompas, yang memuat cerpen dan cerita bersambung. Yang lalu diterbitkan menjadi buku dan dibaca luas. Ada Suara Pembaruan, yang memuat cerpen dan puisi, juga cerita bersambung.

Ada Berita Buana dengan rubrik “Dialog” dijaga oleh Abdul Hadi W.M., yang memuat karangan dan puisi yang oleh Jassin dinilai sangat berharga.

Surat kabar lain, Pelita, punya ruangan “Forum Seni Budaya”, yang tiap Rabu memuat esai, sajak, dan ulasan buku. Halaman ini dikelola oleh H.S. Djurtatap dan Sutardji Calzoum Bachri.

Surat kabar lain lagi, Suara Karya punya rubrik “Pendakian” dengan sajak, cerpen, esai yang menginspirasi. Juga Jayakarta dan Harian Terbit, Berita Yudha, Swadeshi, dan Merdeka Minggu.

Kecenderungan serupa juga dicatat Jassin terjadi di daerah. Yang terkemuka adalah Pikiran Rakyat (Bandung), Suara Merdeka (Semarang). Ia juga mencatat nama Tamtama (Lampung), Singgalang dan Haluan (Padang), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Bali Post (Bali), dan Surabaya Post (Surabaya).

Pada saat itu, Horison memang tak lagi sendiri. Ia seakan mulai ditinggalkan. Pengarang punya banyak pilihan, dan kesempatan pemuatan yang lebih banyak, dengan uang honorarium yang lebih besar.

 

Majalah Terbatas
Pada Desember tahun yang sama, Horison mengakui posisinya yang tak lagi sebagai sebuah sentrum, tak lagi menjadi sertifikat pengakuan kepengarangan.

Di rubrik “Catatan Kebudayaan”, rubrik yang sama di mana Jassin menulis catanta yang dikutip di atas, Sapardi Djoko Damono menuliskan pengakuan itu.

Ia memulai dengan daftar tuduhan atau tudingan pada Horison. Soal mutu cerpen yang merosot, tak lagi sering menyiarkan puisi yang bernilai, esai yang dimuat asal omong dan tak akurat.

“… ke mana gerangan karya bagus yang itu? Mengapa Horison tidak lagi seperti dahulu?” kata Sapardi, sebagai mana ia kutip dari seorang pengamat.

Seperti ditengarai oleh Jassin, Sapardi menyebutkan bahwa – sebagai satu-satunya majalah sastra – Horison saat itu harus bersaing dengan penerbitan lain untuk mendapatkan tulisan yang. Horison tidak lagi menjadi satu-satunya yang memuat karya sastra.

Tidak ada yang salah dengan itu. Saya pernah berbincang dengan beliau terkait soal ini. Kenapa Horison kehilangan peran penting yang pernah ia punya di dekade awal kehadirannya?

“Horison itu ingin menjadi besar. Padahal harusnya tetap saja menjadi little magazine, majalah terbatas,” katanya.

Majalah terbatas mau tak mau harus disokong sponsor, maesenas, donatur yang peduli pada kebudayaan, khususnya sastra. Atau bertahan dengan dana yang tak bergantung pada penjualan majalah, dengan kata lain pada oplah penjualan. Ia menyebut majalah Poetry di Amerika yang punya dana pengelolaan yang besar di bawah Poetry Foundation.

Majalah khusus dengan demikian bisa mempertahankan gagasannya, idealismenya, menampilkan karya yang baru, eksperimental, mendahului zaman. Yang avant garde-lah pokoknya.

Itulah yang berharga dari kehadiran Horison, kata Sapardi, yaitu mempertahankan gagasan untuk terus menampilkan pembaruan – apapun ujudnya.

Ia mengharapkan hal itu kala itu dari para penulis muda, yang punya kesadaran dan tenaga kreatif untuk mengembangkan sastra, ketimbang mengikuti arus konvensi yang sudah ada.

Karya yang demikian sulit diterima di surat kabar seperti yang disebut oleh Jassin. Dan itulah yang terjadi. Seandainya Horison tetap bertahan dengan peran dan kesadaran sebagai “majalah khusus” atau “majalah terbatas” barangkali cerita majalah yang pernah begitu penting dan dominan itu akan berakhir lain.

Ia barangkali akan tetap menjadi media untuk karya-karya eksperimental  dan tak kemudian berhenti terbit pada usianya yang ke-50 pada 2016 (meskipun sempat mencoba terbit lagi, lalu juga tak bertahan lama). (bersambung)


Bacaan:
1. “Sastra dalam Surat Kabar dan Majalah”; H.B Jassin, Horison, Febaruari 1989.
2. “Karya Sastra yang Baik Tidak Lagi Ada di Horison”, Sapardi Djoko Damono, Horison, Desember 1989.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.