Puisi: Daging Sapi Impor – Al-Fian Dippahatang (l. 1994)

Al-Fian Dippahatang (l. 1994)
Daging Sapi Impor

Sewaktu kecil, aku tak kepikiran
memiliki cita-cita. Selain setiap
hari aku membantu ayah menjaga
kesehatan sapi-sapi. Aku tak pernah
merasa sepi saat itu. Setelah sapi-sapi
dijual—aku tak tahu harus menyibukkan
apa lagi. Ayahku ditangkap polisi
enam jam kemudian setelah ketahuan mencuri.
Hasil curian ayahku, kutahu demi
kebutuhan sekolahku. Sejak itu,
dadaku bergolak melihat ayahku
dipaksa-paksa dan sedikit gerakan
yang mirip kungfu, istilah yang
sering diperdengarkan temanku
saat bercanda ingin memukulku.
Kini, bertahun-tahun kemudian,
ayahku pulang dengan kesedihan
ke pangkuan-Nya dan sudah pasti sekarang
aku terus berjuang memenuhi
semaksimal mungkin utang budiku
kepada paman dan tanteku
yang sukses di perantauan.
Tapi hari ini aku merasa bersalah
tak bisa berbuat apa-apa.
Mereka ditangkap karena 143,5 ton
daging sapi impor disita
Bea cukai Tanjung Priok
sebelum menuju lokasi tempat
paman dan tanteku mengembangkan usahanya.
Dari sanalah aku dikasihani
dan meraih cita-cita jadi pelayan keamanan
bukan dituduh memuluskan
kenyamanan masyarakat tertentu.

 

Sumber: Dapur Ajaib (BASABASI, Yogyakarta, 2017) 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.