Puisi: Hujan di Fort Rotterdam – Shinta Febriany

Shinta Febriany

perang membuat sejarah dirinya, bacaan panjang
dengan tahun kejadian untuk bahan ujian di sekolah-
sekolah. derak kuda-kuda memisau di udara, sekali-
sekali mereka kembali merayu batu-batu tua yang
sekarat. ada mayat-mayat yang kehilangan tempat
tidurnya, hanya ziarah bunga-bunga di sebuah tiang
tugu yang berkarat.

dan mimpi-mimpi yang berdesakan, meriap di bangku-
bangku taman. entah mengapa, kubayangkan rama dan
shinta dalam suatu adegan cinta. dahan-dahan pohon
ketapang menahan matahari jatuh di atas kepala
mereka. beberapa lembar daunnya berguguran,
menyentuh tanah. tanah adalah rumah bagi segala
keindahan.

senja mengantar vanessa dalam sebuah konser besar,
tapi teater dibuat dalam kesendirian. langit berubah
warna di atasnya. ketakutan ada di telapak tangan yang
berkeringat, menyengat jendela-jendela raksasa yang
mengeluarkan rintihan. mata terpaksa melihat dalam
cahaya yang singkat, mengabaikan bunga-bunga
berwarna merah di sekelilingnya.

aku mendengar langkah-langkah kaki. ribuan tapak
kaki. bunyi derap langkah tentara yang berbaris. ada
laut di luar, ombaknya mengiris pasir-pasir yang diam.
tubuhku mengirim hujan di fort rotterdam.

makassar, oktober 1997

Sumber: Aku bukan Masa Depan (Bentang Budaya, Yogyakarta, 2003)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.