Puisi: Kaluku – Mariati Atkah (l. 1987)

Mariati Atkah (l. 1987)
Kaluku

sebagai batang, ia teguh
bertahan dari musim yang meracau
sampai kelak tubuhnya rubuh
lalu tumbuh jadi tiang, lantai, dan pintu
jadi meja dan bangku-bangku

sebagai buah, takdirnya adalah jatuh
patuh pada ketetapan yang satu
sesudah luruh gemilang hijau
ke haribaan bumi ia runtuh
tanpa pernah mengeluh dan mengaduh

sebagai daun, tak pernah ia ragu
kelak ia akan menyapu
segala debu dari halaman hatimu
menyapa segala hantu
dari halaman pikiranmu
yang selalu riuh berseru-seru

sebagai bunga, ia tabah menunggu
derau angin berlalu dari segala penjuru
sebab itu takdirnya jadi hiasan melulu
walau ia pun tak tahu
pelaminan siapa yang dituju

ia dipaku waktu
tepat di situ, di seberang jendelaku
menunggu musim-musim berlalu
dipanjati lumur maupun risau kemarau

tak ada yang baru dari semua itu
yang berubah hanyalah hatiku
atau hatimu
yang pelan-pelan meniru sifat batu

ya, aku atau kamu

Barru, 2018

 

Sumber: Selama Laut Masih Bergelombang (Gramedia, 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *