Puisi: Adempauze – Ilham Rabbani (l. 1996)

Ilham Rabbani (l. 1996)
Adempauze
          : Cupak

1.
Sebelum lelah, sebelum kalah,
izinkan aku menyiapkan bekal:
rotan yang tegak,
kulit sapi mengering,
ikat kepala yang menjerat penat.

Aku malu
sebab labirin hidup
mungkin tetap menolak
memberi ruang pijak
bagi diri.

2.
Biarkan aku menggali liang,
menyiapkan kematian
tanpa upacara, pemungkas cerita
yang menerbitkan senyum.

Degup jantung orang-orang
bakal berangsur stabil:
kita dilatih bahagia
di atas tangis manusia
yang mengaribi sepi
paripurna.

3.
Dalam pertaruhan dan pertarungan,
pertolongan adalah mitos
yang kerap diwariskan–
sampai sesiapa menolak berjejal
dengan pegal, dengan linu–
sepanjang denyut waktu:
halus telapak tangan
jadi semacam rencana
jangka panjang.

“Diri pun bersikukuh
saleh pada yang salah,
sementara nasib kerap kali
memutarbalikkan situasi.”

4.
Waktu pun bergerak,
sebelum sempat ada
yang dijejakkan kata-kata
bagi kepergianku.

Ungga, 2019—2020
Adempauze
: Cupak

1.
Sebelum lelah, sebelum kalah,
izinkan aku menyiapkan bekal:
rotan yang tegak,
kulit sapi mengering,
ikat kepala yang menjerat penat.

Aku malu
sebab labirin hidup
mungkin tetap menolak
memberi ruang pijak
bagi diri.

2.
Biarkan aku menggali liang,
menyiapkan kematian
tanpa upacara, pemungkas cerita
yang menerbitkan senyum.

Degup jantung orang-orang
bakal berangsur stabil:
kita dilatih bahagia
di atas tangis manusia
yang mengaribi sepi
paripurna.

3.
Dalam pertaruhan dan pertarungan,
pertolongan adalah mitos
yang kerap diwariskan–
sampai sesiapa menolak berjejal
dengan pegal, dengan linu–
sepanjang denyut waktu:
halus telapak tangan
jadi semacam rencana
jangka panjang.

“Diri pun bersikukuh
saleh pada yang salah,
sementara nasib kerap kali
memutarbalikkan situasi.”

4.
Waktu pun bergerak,
sebelum sempat ada
yang dijejakkan kata-kata
bagi kepergianku.

Ungga, 2019—2020

Sumber: Beritabaru.co, 26 Desember 2020.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *