Rivai Apin, Akhir Takdir, Sunyi Sang Penguak Oleh Hasan Aspahani nanti hari akan habis / dan kelam menyelubungi malam/ … ah, mati / kau masih juga mengejar aku – (“?” […]
Penyair
Esai: Palestina, Puisi, dan Mahmud Darwis
Esai: Palestina, Puisi, dan Mahmud Darwis Oleh Hasan Aspahani BISAKAH puisi kini menggentarkan seorang perdana menteri? Bisa. Itu terjadi di Israel. Perdana Menteri Ehud Barak tahun 2000 lalu, menolak proposal […]
Sapardi: Apakah Saya Harus Mengatakannya dengan Cara yang Telah Basi
Oleh Hasan Aspahani SURAT itu dikirim di awal tahun baru 1964, dari Pengok DKA Blok E-16, sebuah alamat di Yogyakarta ke sebuah alamat lain yaitu redaksi sebuah majalah di […]
Pablo Neruda, Nobel Sastra, dan 40 Buku Karyanya
Oleh Hasan Aspahani NEFTALI Eliezer Ricardo Reyes Basoalto. Siapa itu? Dia orang Cile. Iya siapa? Pemain bola? Bukan, penyair. Penyair? Ya, tapi dia jauh lebih populer dengan nama samaran yang […]
Penyair Besar dengan Puisi Besar
Oleh Hasan Aspahani SUATU malam di Taman Ismail Marzuki. Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri berangkulan. Kesadaran keduanya sedang meninggi. Abdul Hadi tiba-tiba berseru, “Dji, malam ini kau kuangkat […]
Simbolisme, dan Pasemon Seorang Malin Kundang
Oleh Hasan Aspahani Sebagai penyair modern Indonesia ia merumuskan dirinya sebagai Malin Kundang, yang gelisah dan ingiin meninggalkan dan tergoda untuk mendurhaka terhadap budaya ibu. Yang mula-mula ia tinggalkan adalah […]
Penyair: Amir Hamzah yang Membuka Kemungkinan Baru
Oleh Hasan Aspahani PENYAIR Amir Hamzah hidupnya tidak panjang. Ia lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, 28 Februari 1911. Kelak setelah menikah dengan Tengku Kamaliah, putri Sultan Langkat, Amir Hamzah […]
Obituari Gerson Poyk (16 Juni 1931-24 Februari 2017)
Ada Banyak Derita dan Absurditas di Dunia Oleh Hasan Aspahani makin terasa ada kesementaraan / berbunga dalam dada / bila kematian tadi di bayang sendiri / tanah kelahiran selalu menerima […]
Esai: Adakah Ketegangan Antara Penyair dan Prosais dalam diri Kurnia Effendi?
Oleh Hasan Aspahani AKU PERCAYA Sajak Kurnia Effendi Kutinggalkan tanah Taliwang di akhir siang Berbekal cindera mata: sarung tenun untuk anak lanang Memasuki arus padat, merayap di segala tempat Kudengar […]
