Binhad Nurrohmat Karantina, Cintaku : istri Tak ada dosa jatuh di kota kita sekeras ledakan bom perang besar. Dari balik jendela kita menatap hujan serta memandang wajah kita di kaca. […]
Puisi: Tutupnya Kedai Kopi – Sabiq Carebesth (l. 1985)
Sabiq Carebesth Tutupnya Kedai Kopi Di meja itu — berwarna cokelat eboni Kau sajikan gelas demi gelas Hari demi hari dan tahun berganti Peruntungan dan luka-lukaku Telah mewarnai waktu Lebih […]
Puisi: Kiamat di Hari Kamis – Deddy Arsya (l. 1987)
Deddy Arsya (l. 1987) Kiamat di Hari Kamis Hari Sabtu ini malaikat akan mencabik baju di dadanya sendiri payudaranya akan menyumbul seperti kecambah kacang yang baru berumur tiga hari para […]
Puisi: Lengkung Teluk Painan – Deddy Arsya (l. 1987)
Deddy Arsya (l. 1987) Lengkung Teluk Painan Ketika seumuranmu, ibuku dibawa perahu Bugis ke pulau terdekat. Matahari hanya sebesar telur penyu. Kau bercerita tentang nenek moyangmu, pasir-pasir melonjak dalam matamu. […]
Puisi: Tangsi untuk Ahmad Marzoeki – Deddy Arsya (l. 1987)
Deddy Arsya (l. 1987) Tangsi untuk Ahmad Marzoeki Di situ, empat orang raja, duduk bersila di atas munggul kayu tua. Ada tiga orang tuanku menitah pada burung, seperti bunyi gesek […]
Puisi – Rosnida Mencari Laki – Deddy Arsya (l. 1987)
Deddy Arsya (l. 1987) Rosnida Mencari Laki Tidak berfaedah kerjamu itu, Rosnida ibunya memekik-mekik di pangkal jenjang Tapi dia berbedak juga sore-sore hari mencari laki ke Pasar Atas atau ke […]
Esai: Tentang Seni – Arief Budiman (1941-2020)
Pengantar: Esai ini bagi kami klasik dan penting sebagai fondasi pemikiran tentang seni, teknologi, dan manusia. Kami menaikkannya di sini sebagai kenangan atas penulisnya Arief Budiman (kala itu masih memakai […]
Puisi: Puisi buat Kau yang Merasa Rapuh – Surya Gemilang (l. 1998)
Surya Gemilang (l. 1998) Puisi buat Kau yang Merasa Rapuh ibu menulisku bukan sebagai sajak, dan di jantungnya tak pernah tertanam satu pun puisi. ia pun tak hendak menulisku sebagai […]
Puisi: D-N – Surya Gemilang (l. 1998)
Surya Gemilang (l. 1998) D-N kau pernah bersembunyi di jaringan internet lalu membakar arsip kenanganku. kau pernah bersembunyi di balik jarak yang menghubungkan puisi dengan kesedihan sebelum menggigilkanku dengan hujan […]
