Esai: Es – Hasif Amini

Es
Oleh Hasif Amini

DI antara pelbagai keajaiban dalam kitab Edda-yang disusun oleh penyair dan sejarawan Snorri Sturluson pada awal abad ke-13 itu-adalah sepotong percakapan di sebuah meja perjamuan.

AEGIR, sang raksasa samudera, bertanya, “Bagaimanakah gerangan kerajinan yang engkau sebut syair itu bermula?”

Bragi, sang dewa syair, menjawab, “Syahdan, para dewata bertikai dengan bangsa Vanir, tetapi kemudian mereka mengadakan suatu pertemuan dan akhirnya sepakat berdamai dengan cara ini: wakil masing-masing pihak berdiri di depan sebuah tong minuman dan meludahkan liur ke dalamnya.”

Setelah mereka berpisah, para dewa memutuskan hendak mengabadikan lambang perdamaian itu, tak ingin membiarkannya mubazir, dan dari tumpahan lendir itu mereka menciptakan seorang manusia: Kvasir. Ia seorang arif tanpa tara. Tak ada satu pun soal yang ia tak tahu jawabnya. Ia hidup berkelana mengarungi dunia, mengajarkan ilmu kepada orang-orang. Suatu malam ia dijamu di rumah sepasang orang kerdil, Fialar dan Galar. Di tengah cengkerama tiba-tiba si tuan rumah mengeluarkan sepucuk senjata dan membunuh tamu termasyhur itu. Mereka menuangkan darah korban ke dalam tong, mencampurnya dengan madu, dan memeramnya dengan ragi hingga menjadi minuman keras yang sakti. Barangsiapa meneguknya akan jadi penyair atau cerdik-cendekia.

Sebuah alegori yang padat, padu, menyeramkan. Barangkali juga agak berlebihan. Edda mengandung banyak bagian yang memerikan dengan ringan pelbagai kekejian, kebuasan, pertumpahan darah, dan pembunuhan, seakan itu semua sejenis permainan sehari-hari.

Namun, tentu Edda bukanlah hanya untaian kisah-kisah petualangan para satria dan raksasa serta dewa-dewa Nordik yang mendahsyatkan. Ia juga sebuah traktat tentang puisi. Bagian kedua (yakni bagian tengah), dari mana dialog Ægir dan Bragi di atas dipetik, bertajuk “Skaldskaparmal”: bahasa syair. Di situ pelbagai metafora dideret dan dibahas, seakan dalam sebuah kamus sinonim yang ganjil, didahului dengan pertanyaan: Bagaimana menyebut laut? Bagaimana menyebut manusia? Bagaimana menyebut Matahari? Dan seterusnya. Maka berbarislah pelbagai majas standar (kenning) yang kadang terasa begitu asing dan mengherankan: cakram keraguan, mainan (Matahari); lautan, kapal si kerdil (puisi); angsa merah (gagak); api kali (emas); hutan (perempuan); …

Memang kegiatan mendaftar demikian bisa hanya pelan-pelan mengantarkan setiap kiasan menjadi klise, ekspresi menjadi formula-sepasang stigma yang pasti mati-matian dijauhi oleh setiap penyair yang mengagumi tanda tangannya sendiri. Tetapi penyair di zaman itu barangkali menikmati ilusi yang lebih indah: tak peduli dengan kebaruan, tak terjangkiti anxiety of influence, dan bersyair semata untuk merayakan tradisi serta berasyik-masyuk dengan puaknya.

Betapa pun, pada awal milenium kedua itu, ketika para trubadur di sejumlah negeri Mediterania pergi mengelana menyanyikan sajak-sajak cinta, di Eslandia-yang ketika itu dikenal sebagai negeri para pujangga di Skandinavia-syair-syair mitologis para skald (penyair) memang mulai tergeser oleh bentuk prosa yang baru muncul: saga. Itulah epik yang mengisahkan keberanian dan perjuangan para pahlawan dan penguasa di kawasan Skandinavia, sering dalam bahasa yang gamblang dan berhumor dingin, tetapi kadang juga mengumbar takhayul dan fantasi liar. Tersisihnya syair para skald itu agaknya yang menggerakkan tangan Snorri Sturluson untuk merekam khazanah lisan tersebut dan merumuskan semacam puitikanya dalam “Skaldskaparmal”.

Eslandia: tanah es dan api, yang di Zaman Gelap Eropa pernah dibayangkan sebagai letak Neraka. Pada abad pertama sebelum Masehi, Virgil menyebutnya Ultima Thule, nusa di balik cakrawala, di mana kartografi berhenti dan imajinasi dimulai. Dua puluh abad kemudian, saat memulai perjalanannya ke Eslandia di tahun 1936, WH Auden pun memandang negeri itu sebagai sebentang kawasan mimpi dan misteri. Sebuah pulau besar yang tampak sendirian dan sepi, dengan lanskap yang kadang menyerupai hamparan lahan di bulan, dengan padang-padang lahar dingin, tundra yang senyap, perbukitan es yang kasar, tebing fyord yang curam, geiser yang muncrat, aurora borealis yang menari, telaga mendidih, serta kepundan yang mengepul dan menggelegak.

Dalam sebuah catatan perjalanannya, novelis Pico Iyer mengisahkan sebuah tradisi kuno yang masih berlangsung di Eslandia hingga kini: setiap tahun ada satu malam khusus ketika para wakil rakyat di parlemen harus berbicara dalam rima. Rakyat di negeri itu menggunakan bahasa yang belum banyak berubah sejak abad pertengahan; konon mereka dapat dengan mudah membaca kitab-kitab antik leluhur mereka layaknya membaca koran hari ini.

Dari sebuah negeri tropis yang permai, panas, ganas, galau, gamang, ramah, ruwet, rileks, semua itu mungkin terasa seperti fragmen mimpi yang karib sekaligus jauh dan muskil. Seperti dongeng dari masa kecil: tampak percuma, tetapi toh hidup, dan telah menggoda pikiran untuk mengembarai kemungkinan-kemungkinan.

Sumber: Kompas, Rabu 07 Januari 2004

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.