Esai: Milton – Hasif Amini

Milton

Oleh Hasif Amini

Dalam dua puluh tahun terakhir hidupnya ia menjadi buta. Kelompok Republik yang ia dukung kalah dari Kaum Royalis dalam Perang Saudara Inggris. Karya-karyanya, termasuk pamfletnya yang menganjurkan kebebasan menyuarakan pendapat, dibakar oleh algojo di London. Pada tahun 1659 itu ia bahkan sempat dijebloskan ke penjara; tetapi kemasyhurannya di seantero Eropa membuat para penasihat Raja Charles II gentar dan tak lama kemudian melepaskannya.

John Milton (1608-1674) adalah sosok yang tak mudah diringkaskan. Ia seorang humanis penganut nilai-nilai Pencerahan dan sekaligus seorang puritan. Ia seorang penyair yang suka menyepi, tetapi selama dua dasawarsa ia bekerja sebagai birokrat tinggi pada suatu masa yang penuh kecamuk pertikaian. Ia menulis puisi epik dalam gaya agung, tetapi juga menulis pamflet dan terlibat dalam polemik yang penuh serang-menyerang secara vulgar. Ia seorang yang sarat kontradiksi, sekaligus seorang yang berwatak kuat dan konsisten.

Pada usia 16—di tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswa di Cambridge—ia mulai menggubah puisi. Karya pertama itu, ”On the Death of a Fair Infant Dying of a Cough”, ia tulis setelah menyaksikan kematian bayi seorang kakak perempuannya. Ia juga menulis sebuah himne, ”On the Morning of Christ’s Nativity”. Di antara sejumlah puisinya yang ia tulis sebelum meninggalkan Cambridge pada usia 23 adalah ”On Shakespeare”, sebuah sajak pujian penuh ungkapan remang yang takzim kepada sang pujangga. Lima tahun kemudian seorang sahabat karibnya mati tenggelam, dan Milton—barangkali juga terbayangi kematian ibunya setahun sebelumnya—menulis ”Lycidas”, sebuah elegi pastoral yang bagi sejumlah kritikus (antara lain Harold Bloom) adalah sajak pendek terbaik dalam bahasa Inggris.

Namun, baru pada usia 50-an, ketika ia sudah sepenuhnya buta, Milton akhirnya memulai, menyelesaikan dan menerbitkan karya utamanya, Paradise Lost (1667). Banyak kritikus menyebut inilah puisi epik terpenting dalam khazanah sastra Inggris. Milton, yang bertahun-tahun membuat catatan persiapan untuk karya itu, mula-mula sempat mempertimbangkan akan menulis sebuah legenda zaman Raja Arthur, tetapi kemudian berubah pikiran. Ia memilih mengangkat sebuah latar dan tema yang lebih luas dan mendasar: jatuhnya manusia ke dunia.

Kisah Adam dan Hawa adalah sebuah kiasan yang pelik, bahkan rumit, tentang baik-buruk dalam kehidupan. Orang bisa, dan sudah, lama berdebat apakah atau tidakkah rentetan kejadian (godaan, pelanggaran, kejatuhan) itu adalah memang kehendak-Nya semata. Atau inilah soal pengetahuan, kebebasan memilih, dan tanggung jawab yang menyertainya. Lewat bahasa yang jauh dari ungkapan sehari-hari, dalam rangkaian majas yang sering begitu terperinci, dan gaya epik yang dipetik dari Homeros dan Virgil, Paradise Lost menghadirkan tokoh-tokoh dalam drama kejatuhan itu dengan segenap kerumitan dan kepelikan masing-masing. Adam dan Hawa bagi Milton adalah dua sosok tragis yang jatuh karena kelemahan dalam diri mereka—sebagaimana tokoh-tokoh dalam tragedi Yunani jatuh karena keangkuhan mereka—meski akhirnya mendapat pengampunan. Sementara Setan di situ adalah sosok yang kompleks, penggoda ulung yang cerdik dan memendam dendam (sebagai makhluk terusir), yang dengan geram berseru, ”Better to reign in Hell than serve in Heaven”; tetapi akhirnya sampai pada simpulan bahwa, ”The mind is its own place, and in itself/Can make Heaven of Hell, a Hell of Heaven”.

Konon, sehabis membaca Paradise Lost, seorang teman Milton mengembalikan buku itu kepada sang penyair dan berkata, ”Engkau sudah bicara banyak tentang surga yang hilang, lalu apa yang akan kau katakan tentang surga yang bisa kita dapatkan?” Beberapa tahun kemudian Milton menjawabnya, dengan sebuah sekuel, Paradise Regained (1671).

Sumber: Kompas, Minggu 26 Februari 2006

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.