Puisi: Catatlah May Kwee – J.J. Kusni (l. 1940)

J.J. Kusni (l. 1940)
Catatlah May Kwee

catatlah may kwee, catatlah bunga mei, sampaikan ke
para ponakan
katakan kepada anak-anak muda sangat kusayang yang
kau tahu
jangan malu mengaku kau memang menangis
kehilanganku pergi tak lagi kembali
betapa pun remajamu, perempuan, jangan enggan
seperti sediakala menentang monopoli cerita

tak terbilang seperti di mana pun pacinan tahun itu
digenang darah
kita ayam buruan sebelum disembelih dan demi
kebenaran
tak terbilang lalu yang disembelih menggelepar
memandang langit yogya
penghabisan kali mengucapkan kasih yang tak catat,
untuh tak cedera
gang-gang simpang malioboro sangat tahu dan mencatat
kasih kita

catatlah may kwee, catatlah bunga mei ku indah,
sampaikan ke para ponakan
ke para bocah paninan mengapa aku jadi perantau,
pinanganku batang terpenggal
cinta menagih kesanggupan hidup dan mati — tapi hidup
memang lebih rumit
cinta menuntut kepandaian memberontaki pimpinan,
fanatisme dan kesewenangan
setia adalah kemampuan mencampakkan bendera putih di
hadapan ajal

apakah kau disikna saban datang ke pos melapor?
apakah kau ditelanjangi dan diperkosa?
aku gemetar oleh gambaranku tentang kekejaman
pemeriksa
bayang yang muncul dari kelam tentang gadis pacinan
sudah kupinang
o, siapakah yang tak dilukai badai september tahun
itu, tak terjumlah tak terbilang

tentu kau masih ingat kaliurang yang rindang berdua kita
di bawah hutan
memandang air mancur dan kau biarkan dirimu
basah mandi di airnya bening
meminta ceritaku tentang sejarah “red drive proposal”
kaliurang
kau simpulkan lalu, lebih baik tidak beragama daripada
melakukan masakre
lebih baik tidak bertuhan jika tuhan hanya kuda

juga lebih baik tanpa merek kiri apabila mencelakakan
negeri
mas! mas anakku kelak, anak kita, tak kubiarkan ia jadi
tentara dan polisi
jika tak lebih barisan dongo dan pembunuh bayaran tak
berhati
aku ingin ia jadi pembangkang, jadi elang yang sanggup
menyambar
mencakar muka jenderal yang hanya pandai mengeluarkan
perintah membunuh dan merampok
mengasuhnya menjadikan keadilan disiplin tertinggi

ketika menggendong bayinya yang bukan bayiku
kukira kau dapatkan hatimu seperti juga aku
bagai perpustakaan besar
berderet buku-buku kenangan
satu di antaranya
menuturkan kisah remaja kita
penulisnya?
tertera nama kita
kupasti kau terus menulis dan mencatat
tanpa tahu kau duduk di meja mana
karena hidup yang menggelegak
patut dicintai
sebelum kelam menjaring
maaf, tak sempat kuucapkan kendari kata sepatah
segalanya tertinggal di kembang kemuning — terawatkah?

1990

 

Sumber: Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan (Ombak, Jogjakarta, 2005)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.