Puisi: Dari Kopra yang Sama – Gufran A Ibrahim

Gufran A Ibrahim
Dari Kopra yang Sama

Air yang sama tanah yang sama
pohon kelapa yang sama dari kopra yang sama
anak-anak Halmahera lahir dari rahim etos moro-moro.

Kelapa dalam igo bula hibrida air-airnya
air kehidupan yang semaikan bilik kamar pada tangis pertama
anak-anak Halmahera yang lalu berlompat-lompat dalam cenge-cenge
bergelayut dalam ranting soki soki posi posi yang merahimi
telur-telur tude oci ido homa lakoriha.

Dari kelapa yang sama jadi kopra yang sama dari asap asap parapara
rayapi pohon-pohon tikam langit Halmahera yang
memanggil beras gula kopi dan seragam Salasa-Ija dan
Jakbet-Niko enam tahun pada ence di pasar kecamatan, lalu

yang tukar rumah batang daun sagu jadi beton seng genteng lalu
tape recorder layar kaca parabola lalu resifer digital
yang bikin kita terbuai mabuk hilang capek lupa bekas kaki kita
yang terjejak perih pada tangga batang kelapa, lalu

yang menyemarak pesta anak laki-laki perempuan kita yang
sekampung setetangga dalam tali kawin dalam tabuhan tifa campur
gitar campur dangdut campur pop campur tide togal lalayon dan
langit kampung Halmahera pun biru, lalu

yang mengantar Salasa Jumati Namotemo Dula Hamidu ke tanah
Manado Makassar Jawa berguru dan
pulang bikin Halmahera berbunga kelapa berbuah kopra beranak
pabrik dan sekolah
pun cerdas menghitung masa dalam kalikali
masa depan agar bodoh miskin jadi musuh bersama.

Dari kelapa yang sama jadi kopra yang sama dari asap-asap parapara
rayapi pohon-pohon tikam langit Halmahera yang
berdiri tegak kantor-kantor kursi-kursi yang lalu,
lalu ditatap anak-anak Halmahera dengan wajah getir
sebab dia kehilangan bangku sekolah tak bisa menghitung masa
menulis wajah dengan harap-harap cemas ketika tatap temannya di
negeri Jawa Makassar Manado di layar kaca dengan mata duka dalam
terbit matahari besok di antara meranti kayu besi sengon gufasa
yang dikuliti kaki-kakinya demi bahasa pembangunan dalam birahi
kapitalisme demi Halmahera yang bukan untuk Halmahera.

Dari kelapa yang sama dari kopra yang sama, lalu
yang bikin rumah-rumah Tuhan menggapai langit dengan seribu
tangga ayat bertebar di buku suci, lalu
dari kelapa yang sama jadi kopra yang sama dari asap-asap parapara
yang sama,
mengapa menumpah darah di tanah yang semai dodomi
yang bikin anak-anak getir dalam miskin dalam bodoh:
mengapa Rumah Tuhan dibakar atas nama Tuhan?!

Makassar, Maret 2001

Sumber: Puisi Tak Pernah Pergi (Penerbit Buku Kompas, 2003)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.