Puisi: Republik Luka – Refdinal Muzan (l. 1966)

Refdinal Muzan (l. 1966)
Republik Luka

Sebuah bingkai kaca sepertinya tak lagi jernih melihatnya
Sebundar lobang menembus menjadi retak di garis-garis terbaca
dan orang selalu tak tak pernah tahu siapa melemparnya
seperti permainan dadu dalam pesta
seperti sebutir peluru tak kenal pemiliknya.

Pandang ini menjadi bimbang mengarti sebuah peta
meyakin sebuah suara seperti saat pilkada
Tapi masih teraba sebuah detak jantung yang terjaga
agar tak sekarat memupus lusuh sang saka
sebab tetesan telah mengaliri mata air
dan airmata

Segumpal daging dalam dada
sering menjadi hitam disengat kilauan tahta dan wanita
Sehembus napas sering menjadi tuba di sekitar gayut yang mendamba
selangkah kaki sering meninjak tengadah tangan menampung hampa
sepaling senyum sering cuma topeng sembunyikan dusta
semanis kata sering hanya buai untuk bisa melintas di sana
Setanah air sering kita simak
menjadi republik yang luka

Di sebalik kaca
darah itu semakin menetes di merah yang memudar warna
Tulang itu berserak di putih yang melusuh buih

12 Mei 2013

 

Sumber: Salju di Singgalang (AG Litera, Yogyakarta; Cetakan : I, 2013)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.