Puisi: Sahibulhikayat di Negeri Mantang Arang – Dian Hartati

Dian Hartati

perkenalkanlah tuan puan, sahibulhikayat
sedang bertandang ke negeri mantang arang
di negeri itu ia terperangah
mendapati pesisir yang ramai
lalu bersadai, menjelingkan mata

sahibulhikayat menegaskan pendengaran
menajamkan mata di remang malam
sebidang tikar dihampar
di hadapannya, seorang bomoh menyulut mantra
ritual buka tanah dimulai
meminta izin para leluhur
salam pembuka,
secawan air menemani ruparupa sesaji nan sahih

lorong masa lalu terkuak
bersama rampak para panjak
madah melayu menggelora bersambut gedombak,
serta serunai menyayat hati

alam ditingkah musik makyong
yang setakat di antara ketertegunan
perhatikan tuan puan
sahibulhikayat beralih peran

memakai topeng menaiki pentas
menyanyikan lagu menghadap rebab
betabik sebagai tanda pembuka

alkisah, putri nak kandang, permaisuri raja peran
situn sedang mengidam
permaisuri negeri seraja kerajaan dang balai
inginkan daging rusa putih
rusa putih bunting sulung, sulung ayah, sulung
bunda
sulung segenap hutan carang rimba*

sahibulhikayat berperan ganda
sebagai awang pengasuh, putri, dan wak perambun
kadang menjadi panjak ataupun canggai
tersebab gerusan waktu telah melupa opera zaman
anak muda menjauh dari akarnya

wak perambun menerima titah raja
mencari daging rusa putih
ditemani anak panah mercu dewa, susuri hutan
selama hati bertujuh
wak perambun tak menemu rusa, hanya pandang
seorang putri dalam hutan
putri bernama nang nora, putri sindang bulang
yang ketujuh
kata sepakat terucap, berdua menghadap raja
bercerita bahwa tak ada daging rusa putih di dunia*

sahibulhikayat mendengar lengking serunai
terlepas dari kantuk merapikan segala ingatan
tentang roh melayu di bumi sagantang lada
perhatikan tuan puan,
mata sahibulhikayat menjerang kalam
bersempalan dengan tarian
mencecah bibir bomoh yang melecutkan jampijampi
tutup panggung

tuan puan, lihatlah gelagat sahibulhikayat
ia bangkit menjauhi kerumunan
meninggalkan bunyibunyi pesisir
melanjutkan perjalanan hingga ke daek dan lingga
bermuhibah ke negeri serumpun
membawa kelampauan melayu

SudutBumi, Oktober 2007

* Kutipan cerita dari salah satu kisah Makyong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.