Puisi: Syair Orang Kampungan – Oppa Rudi Fofid (l. 1964)

Oppa Rudi Fofid (l. 1964)
Syair Orang Kampungan

kami datang dari udik
mama biang iris tali pusat kami
pakai sembilu

kampung kami amat perawan
malaikat sering mandi
dewa-dewi tamasya

rimba raya, gunung mulia, sungai lagu, laut ajaib
semuanya hanyalah kamar-kamar
tempat kami sederhanakan hidup

kalau orang kota datang
kami sambut bagai raja
barang dan jasa, semua cuma-cuma

kami suka orang kota
baju, sepatu, tustel, pisau cukur
pomade, logat, semua itu pesona
kalau orang kota pergi
kami antar dengan air mata
kami kenang mereka secara kaya raya

batin kami kenal dua kasta orang kota
satunya pembela dan pembina kami
Satunya pecah-belah dan binasakan kami

kami lugu tetapi orang kota itu lucu
kalau kami ke kota, jadilah berita
mereka tatap ujung kaki sampai ujung rambut kami

kalau kami bicara dengan nada-nada kampung
mereka tertawa geli sampai bertahun-tahun
seakan lagu bahasa kami itu satu kesalahan budaya

kami diperkenalkan pada kota
beginilah kota, kencing bayar, parkir bayar
beginilah kota, tidak ada mangga dan pepaya gratis

banyak orang kota berhati putih
mereka inilah para pembela dan pembina kami
jika bertemu, mereka ingin gendong kami

tidak sedikit orang kota berhati hitam
mereka pecah-belah kami dan mau binasakan kami
jika bertemu, mereka ingin bius kami

kami orang kampung kecil
tetapi kami punya mimpi besar
maka kami belajar melihat dunia

ketika kami sanggup melihat ketidakadilan
ketika kami ikut protes dalam unjuk rasa
kami diserang kata-kata payah: kampungan

dulu, kami pernah sesali takdir
mengapa lahir di udik
bukankah itu abadi di akta kelahiran
kini, setelah kami kenal dunia
barulah kami mengerti
kampung kami adalah surga yang diperebutkan

maka atas nama tanah kami
atas nama nenek moyang kami
kami akan kembali jadi anak kampung nan udik

kami akan pergi ke batu baboso
bicara dengan orang baboso-baboso
dalam bahasa sirih, pinang, kapur, gobang

o penjaga tanah, penjaga rimba
penjaga gunung, penjaga laut
berpihaklah pada kesucian

jika ada orang ke kampung kami
sambil lirik tanah kami dengan mata culas
bawa dia ke kubur walau belum waktunya
Baca Juga Ibrahim Ruray Menang Praperadilan

jika ada orang ke kampung kami
sambil elus tanah kami dengan doa tulus
antar dia ke pintu eden, pada waktunya

kami datang dari udik
mama biang iris tali pusat kami
pakai sembilu
kami tahu, kami berdiri di garis tepi kesunyian
kami telungkup di halaman belakang ketertinggalan
kami sedang berjalan di jalan pincang ketidakadilan

kami curahkan tetes-tetes syair kampungan ini
di atas daun-daun keladi dan daun-daun salam
di bawah pohon damar dan kenanga terakhir

kami percaya, dari seribu anak kami yang ke kota
kelak ada satu-dua anak kembali ke kampung
mereka akan menjelma anak-anak baboso

di atas tanah-tanah baboso
orang kampung akan jaga isi tanah
agar pohon seho terus tumbuh ke langit

dari sana, orang kampung kirim rampa-rampa
padi, ubi, sayur, kelapa, gula merah, ikan, ternak
agar orang kota kenyang, bahagia, walau lupa kampung

dari sana, orang kampung kirim kayu ke kota
agar dibuatkan rumah kayu dan ranjang kayu
tempat orang kota tinggal bulan madu, walau lupa kampung

kami orang kampung
sekali udik tetap udik
orang kota sebut kami kampungan, anjay!

Ambon, 9 Oktober 2020

Sumber: Suara-suara dari Alifuru (Teras Budaya Jakarta, Jakarta, 2021); Poros Timur, 18 Oktober 2020.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *