Esai: Cerita – Hasif Amini


Cerita

Oleh Hasif Amini

DI langit malam menggeriap titik-titik bercahaya, tak terkira jumlahnya, tak tepermanai jauhnya, entah ukurannya, usianya. Namun, pada suatu masa, manusia menarik sejumlah garis khayal di antara bintang-bintang itu dan membayangkan mereka sebagai makhluk-makhluk: kalajengking, kepiting, kambing, ikan, si kembar, perawan, … Dan menyematkan nama-nama: Aldebaran, Cassiopeia, Danu, Hamal, Orion, Southern Cross, Waluku, … Kerlap-kerlip yang sunyi itu mungkin sudah menggetarkan, tetapi tak cukup. Mata membutuhkan rupa, telinga mendambakan nama, otak merangkai pola. Sejak mula, agaknya, kita tak bisa mengelakkan “penasaran” yang mengasyikkan ini: bahwa di balik setiap gejala adalah sebuah (atau sejumlah) cerita.

MAKA, di antara serakan gemintang itu tersebutlah sesosok raksasa pemburu yang meregang busur panahnya, lelaki pembawa segentong air, perempuan penabur biji gandum, pembajak sawah, dan seterusnya. Ruang angkasa yang membentang jauh dan asing itu lalu seakan-akan jadi meriah, hidup, akrab. Mungkin pembayangan dan penamaan itu adalah sebentuk (dan bagian dari) penaklukan atau penjinakan atas hal-ihwal yang tak dikenal. Tetapi, sebenarnya itu sekaligus menunjukkan betapa perjalanan pengetahuan bukan hanya riwayat penguasaan, melainkan juga sejarah kegamangan dan ketakutan manusia.

Nyatanya, semenjak zaman dahulu sekali cerita merupakan perangkat penerang kepala manusia yang ajaib di semesta yang gulita penuh misteri. Berceritalah, agar kami mengerti mengapa dan bagaimana dunia ini tercipta, siapa dan dari mana nenek moyang kami gerangan, agar kami maklum di mana kami berada dan ke mana kiranya kami akan menuju. Dan, kitab-kitab pun bercerita tentang surga permai yang jauh, manusia lempung yang jatuh, bumi durhaka yang dilanda banjir besar; tentang mahadentuman, debu yang berpusar-pusar hingga bolongan hitam, makhluk bersel satu hingga kecerdasan buatan; tentang lautan kabut, para dewata dan pahlawan, jimat dan air keabadian.

Dan bukankah puisi-puisi tertua di dunia adalah kisah-kisah? Sebutlah epik Gilgamesh, Ramayana, Iliad. Pada mulanya penyair adalah sang juru kisah. Ia menjawab hasrat yang dalam di lubuk hati khalayaknya: keinginan membayangkan jalannya cerita dengan laku tokoh-tokoh yang dapat menggugah dan mengilhami hidup mereka sehari-hari. Tetapi, zaman puisi yang demikian tentu sudah lewat lama. Tradisi bercerita-yang sejatinya berdasar alam mitos dan berlatar belakang dunia epos-kini diteruskan oleh seni teater, novel, dan film.

Sedangkan si penyair adalah pelantun kata-kata yang ganjil dan indah. Puisi adalah pena yang bermimpi, kata filosof Gaston Bachelard. Dari hari ke hari puisi terus menemui khalayak yang kian lama kian terbatas, khusus, khusyuk. Tentu itu bukan niscaya kekeliruan. Tak ada yang patut disesali. Tradisi lirik, yang setia menyanyikan bisik hati, adalah sebuah riwayat tersendiri yang panjang juga.

Betapapun, puisi di zaman modern ternyata bertemu dengan sejumlah semangat militan yang tak terduga. Salah satunya adalah semangat yang hendak mencari intisari puisi yang tak akan ditemui dalam jenis ekspresi yang lain. Saya teringat sebuah cerita tentang mendiang Jose Garcia Villa. Penyair terkemuka asal Filipina yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di tengah kaum avant-gardis New York abad ke-20 itu berniat “memurnikan” puisi dengan membersihkannya dari unsur-unsur naratif sekecil apa pun. Puisi harus hanya menyosokkan keajaiban hadirnya kata demi kata, imaji demi imaji, bunyi demi bunyi.

Tetapi, barangkali memang ada sesuatu dalam diri kita yang mudah terpesona oleh rangkaian sebab-akibat, dengan situasi- situasi yang bergerak dan tokoh-tokoh yang terasa bernapas. Karena itu, sajak-sajak yang bercerita dengan kuat, yang menyuling drama pertemuan manusia, tak mati-mati dalam ingatan, atau akan selalu bangkit kembali dari sana. Kasan dan Patima atau Maria Zaitun dari balada-balada Rendra, manusia pertama di angkasa luar dari Subagio Sastrowardoyo, pacar kecil Joko Pinurbo: mereka adalah beberapa tokoh tak terlupakan yang lahir dalam puisi, di antara sekian banyak yang lain, yang bernama atau tak.

Barangkali selalu ada sejumlah garis yang harus ditarik, alur yang disusun, untuk menyederhanakan kerumitan dan ketidakpastian yang kian meresap ke lapis-lapis terdalam dunia (dan) manusia. Ada selarik kata-kata Hannah Arendt yang lirih, “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita.” Barangkali saja ada yang menunggu, untuk menerima, untuk mengingat-seperti orang menerima dan mengingat si kembar, kalajengking, bajak, perawan, meski mereka jauh di langit yang asing.

Sumber: Kompas, Rabu 1 Oktober 2003

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.