Esai: Kenapa Kita Menulis Puisi? (1)

Kenapa Kita Menulis Puisi? (1):

Kupu-kupu Membawa Pantun Terbang ke Eropa

Oleh Hasan Aspahani

SEJAK semula bahasa Melayu, apa yang kelak menjadi bahasa Indonesia kita hari ini adalah bahasa yang punya potensi estetis. Bukan cuma baik sebagai bahasa komunikasi praktis. Bahasa ini melahirkan bentuk puisi yang kita kenal sebagai pantun, selain dengan indah dan sangat produktif bisa juga dipakai untuk menulis syair, apa yang diadopsi dari Persia.

Pantun punya puitikanya sendiri, dengan syarat-syarat estetis, metrum, rima, pembagian larik dalam sampiran dan isi, yang apabila tidak dipenuhi ia tak disebut pantun, atau dalam istilah Raja Ali Haji (1808-1873) dia menjadi pantun yang catat.

MARI kita baca pantun ini:

kupu-kupu terbang melintang
terbang di laut dan di hujung karang
hati di dalam menaruh bimbang
dari dahulu sampai sekarang

terbang di laut di hujung karang
burung nasar terbang ke Bandan
dari dahulu sampai sekarang
banyak muda sudah kupandang

burung nasar terbang ke Bandan
bulunya lagi jatuh ke Patani
banyak muda sudah kupandang
tiada sama mudaku ini

bulunya jatuh ke Patani
dua puluh anak merpati
tiada sama mudaku ini
sungguh pandai membujuk hati


Mula-mula William Marsden (1754 – 1836) yang menerjemahkan “Pantun Kupu-kupu Terbang Melintang”, pada 1812, ke dalam bahasa Inggris.

Lalu Ernest Fouinet (1799 –1845), yang menerjemahkan pantun yang sama ke dalam bahasa Prancis. Terjemahan Fouinet tak muncul ke publik sampai Victor Hugo (1802-1885) yang menyertakan pantun terjemahan itu ke dalam catatan antologi buku puisinya Les Orientales” (1829).

Buku “Les Orientles” berisi 41 puisi. Victor Hugo saat itu tampaknya sedang mabuk sastra Timur. Pada sajak ke-27, Nourmahal-La-Rousse, Hugo membuat anotasi hingga sembilan belas halaman, di mana ia menampilkan sajak-sajak yang menginspirasi sajaknya itu. Ia menyebut dan mengutip dua belas sajak dari Rumi, Rafiuddin, Champour Ahbari, hingga yang terakhir pantun “Kupu-kupu Terbang Melintang” yang diterjemahkan oleh Fouinet.

Hugo menjelaskan kata ‘nourmahal’ adalah kata yang ia ambil dari Arab yang berarti cahaya dari rumah. Ia membuat metafora untuk rambut merah yang membuat kecantikan perempuan timur menjadi bercahaya. Dengan jujur Hugo mengakui bahwa sajaknya itu dipengruhi oleh pesona dan pengaruh oleh puisi-puisi timur.

Dia katakan: …Walaupun tulisan ini tidak dipinjam dari teks Oriental manapun, kami percaya bahwa ini adalah tempat untuk menyamarkan beberapa kutipan puisi timur yang sama sekali tidak dipublikasikan yang bagi kami luar biasa dan membangkitkan rasa ingin tahu.

Dan Hugo ingin membagikan pesona itu. Ia mengagumi terjemahan-terjemahan Ernest Fouinet yang kerap berkorespondensi – antara lain dengan mengirimkan sajak-sajak terjemahannya – kepada Hugo.

Hugo menyebut pantun sebagai nyanyian Melayu yang orisinal dan nikmat. Dan bersama bentuk-bentuk sajak dari khazanah budaya Timur lain (ghazal, rubaiyat, dll) yang menginspirasinya ia menyebut, “… Ini adalah hanya beberapa permata berharga yang kita ambil dengan tergesa-gesa di tambang besar dunia Timur”.

Dari kekaguman dalam anotasi Hugo itulah agaknya pantun menjadi dikenal dan terkenal. Menjadi bentuk formal puisi yang mapan, dan dicoba oleh banyak penyair.

Yang banyak disebut sebagai pantun asli bahasa Prancis yang memukau adalah karya Charles Baudelaire (1821-1867) “Harmonie du Soir”.

Meskipun menyebut karya itu sebagai pantun agak menganggu juga, karena rimanya yang ganjil.

Mungkin Baudelaire memang sengaja menyusun rima seperti itu, atau karena dia tidak terlalu paham timbangan pantun. Di Eropa dan Amerika, pantun dianggap menjadi bagian dari bentuk puisi lirik berdampingan dan setara dengan soneta, ode, himne, dan bentuk-bentuk sajak lirik lainnya.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.