Puisi: Album Lama: Dipati Ukur No. 68 – Ready Susanto (l. 1967)

Ready Susanto (l. 1967)
Album Lama: Dipati Ukur No. 68

Republic Science Club suatu ketika

Hujan renyai jatuh ke sekian kali di jalan ini. Mengapa tak kau
kembangkan payungmu yang berbunga-bunga itu? Sementara
kata tak ada, kita cuma akan mendengar desau angin yang pergi
bersama rahasia. Ke mana? Entah. Kita hanya perlu desir ge-
rimis untuk digulung di dalam catatan harian.

Di tikungan itu, tepat sebelum tangga, aku ambil jalan ke kanan.
Engkau menggosok-gosok sepatu, mengetuk-ngetuk payung,
menyesap ingatan dalam-dalam, “Berapa resah yang telah jadi
entah.” Ah, kekasihku, begitu dalam palung waktu, menunjam
serupa lempeng benua dan samudera.

Di sini ruang begitu sungkup, bertimbun buku, berjibun berkas.
Kita menyingkup dunia yang terbang lepas dalam malam-
malam perbantahan yang hangat. Di luar, dingin berdecit di
telinga, engkau menghalaunya dengan ribuan halaman kopi.
Sigaret.. sigaret.. Di mana gerangan sigaret? Freire-kah itu yang
menyesapnya dan membualkan asap di sembarang tempat?

Lalu, pagikah itu yang mengetuk pintu? Suratkabarkah yang
datang dengan sepiring colenak hangat? Begitu ramai dunia di
luar sana, anak-anak itu datang dengan menggebu, selalu
berjaket biru. “Orde itu segera tamat!” Dan lapangan rimbun
pun menjadi panas, hiruk-pikuk, senja pun datang dengan tak
peduli. Tapi engkau telah tahu, kapan saat mesti menunggu.

Dan engkau memang setia menunggu, duduk di bangku itu,
berceloteh ringan tentang ragu. Di sudut, perpustakaan seperti
termangu, ruangannya dingin beku. Buku-buku mengunggun
debu, sekali-kali saja kita meminjamnya. Pertanyaanmu terngi-
ang selalu, “Dengan siapa engkau bertukar cinta pada halaman-
halamannya?”

(2007)

Sumber: Sepucuk Pesan Ungu; Semenanjung, bekerjasama dengan Penerbit Bejana, Bandung, 2007.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.