Puisi: Blues – Bagus Burham

Bagus Burham

maka, kembalilah lidah dari diam ke bahasa
perbincangan antara teh dan kopi robusta
di luar hujan tak surut meleleh di atas tanah

disini kata-kata tersambung menjadi kalimah
tak sampai selesai, terpotong suara desis gerimis
tak berunjung noktah, tertumpuk suara hibuk
orang-orang yang mencari kehangatan musim

saksopon mengalun merdu, serupa adagio
langkah kaki dari yang basah, masuk tanpa permisi
menelusuri meja dan memesan segelas kopi

kau tangkap perbincangan, meruncing ke inti
kemari, kita terus mengurai pecahan tanya
dari mulai basa basi hingga serius yang berarti
percakapan yang memakan bibir dan hati

kau, tak mengerti betul. tentang lidah yang tumpul
menghadapi dingin musim di luar kafe
semestinya, tempias kecil yang berlelehan di kaca
telah membangunkan deras diri hujan

tiang lampu sepi sendiri bergerimis hujan
dan payung yang kau sandarkan di pojok kafe
tetap menguncup, meski hujan semakin menyusup

angin menyingkap musik yang berdetak lembut
mengusik daun-daun, berdesik namun tak jatuh
rona lampu, berteduhlah para serangga
kita berdua, melompat pada rimisnya drama
yang mungkin tetap tak berarti apa-apa

kau masih betah, kan di sini? detik tetap hujan
akan tumbuh banyak luka di kayu lapuk
sekelompok laron di pendar lampu yang menumpuk

kuli dan penyair selau sama
mereka letih. mencoba mengartikan
semua tanda. tetapi penyairlah yang lebih derita

hujan tak ingin berhenti
kali ini, ada yang coba ia katakan
kepada bumi, sebelum ia masuk ke tanah
menginginkan sesuatu dari sini, tapi masih semu

Sumber: Monolog Angin (Garudhawaca, Yogyakarta, 2014)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *