D. Zauhidhie (1934-1984)
Huma yang Perih
tiada lagi kerbau menguak
gemertuk roda cikar terengah-engah
sarat beban memuat padi
kelapa dan umbi
tiada punggung-punggung dan bahu-bahu menghambin lanjung
penuh berisi terong jagung atau pisang
belimbing sirih pinang
mana keranuman tubuh ramping yang liuk-lampai
tempaan alam permai
dengan rambut panjang membeliut terkulai
tangan halus jeriji lentik
yang tiap pagi memetik melati
meraup kembang kenanga
mana dendang dan lenggokmu yang bersih
ketika pagi senja turun mandi
bercebur di danau jernih tenang
kecipak kecibung
ke mana perginya orang lumpur
wajah tanah
kaki yang kukuh dan tangan tak pernah kering
jika ke kota apa kaucari
di bawah lampu merah kuning hijau
segala menyilau
lebih baik kembali
kelak engkau akan tersia
bahagia di sana di peti mati
terkubur dalam
engkau ke kota atau ke mana sungguh wikana
hanya di sini betapa perih
tiada lenggok pohonan disintuh angin
setiap pengembara yang tersesat ke mari
mau tak mau mengakui
siang malam di sini tanpa pangkal ujung
mau tak mau tunduk tengadah
menatap langit menjulur rendah
dan matahari yang hilang wajah
akan mengurut dada
ketika pipit gelatik terbang ke hulu
meninggalkan dahan dan ranting sambil tersedu
orang-orang yang tidak tentu arah meninjaulah ke mari
tempat peminta-minta menggelak ria
raja dan pendeta meratap sendu
mulia hina tanpa teraju
bagai kolam tenang lagi jernih
akankah di sini terbina sebuah istana
dengan pintu jendela besar-besar dan lampu-lampu berantukan
bukankah istana di kota yang pernah kulalui
dahulu belantara tiada taranya
pelinjangan harimau dan pelanduk bercanda
dan pemburu mati dikoyak-koyak beruang
menyelusup ke balik lalang berisik
jengkrik kumbang atau capung
menyusun sebuah simponi beragam lagu
untuk menghibur diri sendiri
sebisa-bisanya
alangkah merdu dan aku dibikinnya tak mau pulang
Sumber: Tanah Huma (PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1978)
