Puisi: Indeks Penyambung Lidah – Rizki Amir (l. 1995)

Rizki Amir (l. 1995)
Indeks Penyambung Lidah

aku beri nama tiap hidangan yang bersantan dari balik bilik dapur ini dengan namamu. nama yang mengunyah sekaligus menyambung lidah. supaya nyala doa yang menghuni belanga tetap jadi tanda tanya. dan setelah puluhan malam, setelah ucapan yang gemetaran, yang lekat di tiap suapan, bukan kecemasan dalam demam semata. di meja makan, kamu pernah berkata padaku: “setelah kuserahkan senyum salam perpisahan, maka semua kangen di hari sabtu akan melambaikan tangan kepadamu.”

tapi, ternyata (setelah senyum salam perpisahan), yang berjajaran malah pilihan jajan dan makanan dari cinta yang jauh ditinggalkan. apakah batasan dari perjalanan dan guyonan-guyonan jika bukan sepiring kenangan. dan hampir tidak ada seukuran dada yang kamu diamkan di tiap suap-sesapnya.

2019 

Sumber: lahirsajak, 9 September 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *