Ahda Imran (l. 1966)
Kota Putih
Aku melihatmu di sebuah kota
yang menjadi putih. Ketika gelap
bersalin lidah dengan terang. Ketika
orang-orang menemukan sisik ular
di bawah bantal, sajadah, dan altar
Bagai lebah mereka berkerumun—
memasuki tubuhmu. Mengangkut kecemasan
dan kebencian. Di padang lapang mereka
mengerang dan mengasah pisau
Kota seputih kafan. Kau berjalan
memanggul jenazah Habil, mengitari
Kota Suci, memandikannya
dengan percik bunga padma
Tubuh dan kakimu mengucur darah
Jemaat yang terus mengerang; berebut
daging dan darahmu. Mengitari tulang
belulangmu
Aku menemukan kematianmu
di sebuah kota yang menjadi putih
Kota yang kuciptakan dari percik ludah
dan pisau yang terus diasah
Sumber: Basabasi.com, 12 Mei 2020.