Puisi: Kucing – Zaim Rofiqi

Zaim Rofiqi

– Jacques Derrida

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu
abu. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor
panjang. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor
panjang bermata biru berkilat-kilat. Ia melihat seekor
kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-
kilat seperti kegirangan. Ia melihat seekor kucing berbulu
abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti
kegirangan menyantap sepotong kapala ayam. Ia melihat
seekor kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru
berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap sepotong
kapala ayam di bawah sebuah meja makan.

Ia melihat seekor kucing, Ia melihat seekor kucing berbulu
abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti
kegirangan menyantap sepotong kapala ayam di bawah
sebuah meja makan. Ia melihat seekor kucing berbulu abu
berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti
kegirangan menyantap sepotong kapala ayam di bawah
sebuah meja makan di sebuah cafe. Ia melihat seekor
kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-
kilat seperti kegirangan menyantap sepotong kapala ayam
di bawah sebuah meja makan di sebuah cafe di pinggiran
kota. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor
panjang bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan
menyantap sepotong kapala ayam di bawah sebuah meja
makan di sebuah cafe dipinggiran kota di dini hari sehabis
hujan.

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu
abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti
kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah
sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggir kota di
dinihari sehabis hujan. Ia melihat seekor kucing berbulu
abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti
kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah
sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di
dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa
sandal tanpa sepatu. Ia melihat seekor kucing berbulu
abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti
kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah
sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di
dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa
sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu
sama lain seolah hendak mengusir dingin. Ia melihat
seekor kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru
berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap sepotong
kepala ayam di bawah sebuah meja makan di sebuah kafe
di pinggiran kota didinihari sehabis hujan di antara dua
pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang kadang
mengelus punggung satu sama lain seolah hendak
mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi
berbisik-bisik satu sama lain.

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu
abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti
kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah
sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di
dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa
sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu
sama lain seolah hendak mengusir dingin, dan di atasnya,
sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu sama lain. Ia
melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang
bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap
sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di
sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di
antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang
kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak
mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi
berbisik-bisik satu sama lain dengan tangan yang saling
bersentuhan. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang
bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap
sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di
sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di
antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang
kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak
mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi
berbisik-bisik satu sama lain dengan tangan yang saling
bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan.
Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang
bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap
sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di
sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di
antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang
kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak
mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi
berbisik-bisik satu sama lain dengan tangan yang saling
bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan, di
bawah sebuah lampu bohlam temaram.

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu
abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti
kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah
sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di
dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa
sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu
sama lain seolah hendak mengusir dingin, dan di atasnya,
sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu sama lain dengan
tangan yang saling bersentuhan, wajah yang kadang saling
didekatkan di bawahsebuah lampu bohlam temaram. Ia
melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang
bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap
sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di
sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di
antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang
kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak
mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi
berbisik-bisik satu sama lain dengan tangan yang saling
bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan di bawah
sebuah lampu bohlam temaram yang menggantung
tepat di tengah-tengah ruangan. Ia melihat seekor kucing
berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat
seperti kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di
bawah sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran
kota di dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki
tanpa sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus
punggung satu sama lain seolah hendak mengusir dingin,
dan di atasnya, sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu
sama lain dengan tangan yang saling bersentuhan, wajah
yang kadang saling didekatkan di bawah sebuah lampu
bohlam temaram yang menggantung tepat di tengah-
tengah ruangan, sementara di sekitar mereka, meja-meja
telah kosong ditinggalkan.

Ia melihat seekor kucing, lalu ia pun mengalihkan
pandangan ke luar, pada jalanan dinihari sehabis hujan
yang tak lagi hingar, pada deretan lampu jalan yang seperti
menyerunya untuk segera pulang.

2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.