Puisi: Membaca Alkitab dengan Mata Cemas dan Rindu -Weslly Johannes


Weslly Johannes
Membaca Alkitab dengan Mata Cemas dan Rindu

01/
Kaulah manusia pertama
dan akulah semua pohon dan hewan
yang kauberi nama.

02/
Kau gigit aku di ranum buah yang kuberi padamu.
Manis, semanis-manisnya kebebasan
Perih, seperih-perihnya tanggung jawab.

03/
Kau dan aku belajar menyulam selubung
dari daun-daun dan kulit kayu dan kulit ternak
untuk menutupi apa?

04/
Cela, katamu.
Masing-masing cela
pasti punya celana sendiri-sendiri

05/
Aku ingin menjadi bahtera
dan hanya kau yang di dalam aku
pada waktu hujan mengubur semesta.

06/
Ada tangan-tangan kotor yang ngotot
memasang filter monokrom ke atas pelangi
yang membusur dari Papua sampai ke Aceh.

07/
Kebaikanmu adalah lumbung penuh makanan,
ke mana aku menyingkir meluputkan diri
dari tahun-tahun sepi yang lapar.

08/
Pada malam, akulah mimpi-mimpi
dan hanya dirimu seorang yang sanggup
mengartikannya.

09/
Takdir manusia yang hidup dari tanah
tetapi yang tak lagi mempunyai tanah:
perbudakan, perbudakan, perbudakan.

10/
Aku percaya, cinta membebaskan,
tetapi aku tak percaya kepada tuhan
yang membunuh anak-anak sulung.

11/
Terbelah seperti laut, hatiku
dan kau adalah manusia pertama
dan terakhir yang menjejakinya.

12/
Dadamu adalah tanah yang dijanjikan itu.
Sebuah negeri yang berlimpah susu dan madu,
sedang aku hanya sepasang mata sang nabi.

13/
Harus berapa kali kau kudatangi,
supaya luruh seluruh tembok prasangka
di antara tatap mata kita

14/
Dari padang-padang musim kering
telah kaugembalakan rinduku
menuju bibir telagamu.

15/
Kegilaan-kegilaan di dalam diriku
bersimpuh pada petikan-petikan kecapi
dari jari-jari tanganmu.

16/
Adakah yang harus disingkirkan,
karena tak mau menjual kebun cengkih
peninggalan leluhurnya?

17/
Kebesaran-kebesaran memudar,
kerajaan-kerajaan berlalu,
kebaikan-kebaikan tetap tinggal.

18/
Rindu adalah kota-kota Asyur yang masyur,
ke sana aku telah terbuang jauh, begitu jauh
dari kampung kecil yang memeluk tidurku.

19/
Kesepian bagai gua
penuh aum dan taring singa.
Kau di sana berdoa untukku.

20/
Matamu adalah nyala bintang
yang menuntun kepulanganku
ke palunganmu.

21/
Dan seperti anak yang hilang
aku kembali ke pelukanmu
—sebuah pesta tersedia bagiku.

22/
Sebuah kota digasak tsunami.
Ahli-ahli taurat bilang, mereka berdosa.
Orang Samaria menggalang bantuan.

23/
Dari sagu satu lempeng
yang kaupatah bagi siwa atau lima
kupercaya mujizat masih ada.

24/
Aku tenang. Semua gelombang
dan badai yang kubawa berlayar
mengenali suaramu.

25/
Ke dalam sebuah taman di rangkulanmu,
aku mau menepi dari semua ketergesaan
untuk berdoa di antara leher dan pundakmu.

26/
Ciuman mengubah banyak hal
—termasuk takdirmu.
Hati-hati!

27/
Jual saja hasil panen cengkih dan pala.
Tukar tambah pula ponselmu yang lama,
tetapi jangan jual sahabatmu, baru pun lama.

28/
Penjahat dan perampok berkeliaran di televisi.
Orang-orang baik mendekam di kamar-kamar besi.
Mata Dewi Keadilan boleh dibebat, mata hati jangan.

29/
Seperti tubuh Kristus
kepada paku dan tombak, hatimu
menyambut cintaku yang rapuh.

30/
Cinta yang utuh tegak pada salib di bukit itu.
Separuh kau dan separuh aku harus mati di situ
supaya hidup kembali sebagai kita.

31/
Tuhan adalah cinta.
Bertuhan adalah mencintai.
Beragama adalah memeluk.

32/
Pergilah. Baptiskanlah mereka
dengan air segar untuk terik kebencian,
dengan teh manis hangat untuk gigil kecurigaan.

33/
Kini, di kota-kota yang sesak dengan kebohongan,
aku merindukan lagi sebuah taman yang dulu
berisi ketelanjangan kita.

Salatiga, 18 November 2018

Sumber: Blog Semacam Puisi, 5 November 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.