Puisi: Pemacu Ombak – Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994)

Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994)
Pemacu Ombak

Pemacu ombak di segara raya,
Gelisah terapung berbuai-buai
Di atas alun kecil-kecil,
Menantikan ombak tinggi padu,
Gairah menggulung menuju pantai.

Di depan membentang samudra biru,
Jauh menghabis di garis lengkung,
Tempat langit mantap bertahan,
Dan awan tipis takjub tertegun.

Di sini segalanya tiada berhingga:
Ketinggian langit melingkungi semesta,
Keluasan angin di gelanggang biru,
Kedalaman rahasia ombak bergolak.

*

“Datang, datanglah alun perkasa!
Tinggi biru berpuncak putih,
Saya ‘lah siap di atas peluncur,
Menanti anda menjulang tinggi.”

*

Meninggi, meninggi alun biru.
Sejenak pendek:
otot bersetegang
mata terpaku
jantung terhenti
Dan peluncur tangkas merebut ombak,
Garang liar mengejar pantai.

Cepat cergas pemacu gairah,
Tangkas terpegas di papan peluncur,

Menguakkan tangan meluruskan badan,
Menegakkan kepala anggun bangga,
Laksana dewa, muda ria
Merangkum rahasia permainan abadi,
Antara langit, air dan angin.

*

Pemacu ombak di segara raya,
Gelisah terapung berbuai-buai
Di atas alun kecil-kecil,
Menantikan ombak tinggi padu,
Gairah menggulung menuju pantai.

Pantai Kuta, 17 September 1974

 

Sumber: Lagu Pemacu Ombak (Dian Rakyat, Jakarta, 1978); dalam “Tonggak”, Linus Suryadi, ed. (Gramedia, 1978)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.