Puisi: Kepada Pembaca – Dea Anugrah (l. 1991)

Dea Anugrah

Seperti ujung benang sehelai
mudah luput dari lubang jarum,
adakalanya sebuah puisi
tak bisa menggenggam jiwamu.

Kepadaku pernah ada yang berkata:
“Bahasa adalah tebing-tebing terjal tipis udara,
perangkap Sang Ajal di makam raja-raja,
rahasia alkemi yang dikawal ajak berkepala tiga.
Maka sebuah sajak, seharusnya
tak mengulang yang telah ada.”

Pun baginya, bahasa serupa
wilayah baru yang perlu direnggut
serta diberi tanda pada peta:
“Ini milikku, bahasaku, tubuh yang kuurapi
bagi denyut gaib puisi.”

Namun itu terlalu rumit untukku
yang menampung bahasa
dari rembesan peristiwa sehari-hari,
gagasan yang kian tak tertampung,
serta buku-buku yang sesekali
kubiarkan terbuka, tak terbaca.

Dan mungkin aku terlalu peduli
pada bunyi sayap seekor belalang
yang bergesekan dengan kaca jendela
atau kantuk yang berkeloneng
di kelopak mata orang-orang yang kukasihi
untuk bisa memahami perkataan yang lain:
“Celakalah kedua tangan penyair
bila tak disampaikannya kebenaran!”

Tapi apakah kebenaran,
apakah puisi?

Puisi yang kupahami
adalah penerimaan akan maut
yang diucapkan dalam nada rendah.
Puisi adalah punggung yang merahasiakan
batuk seorang ayah
dari khayal riang anak-anaknya.
Puisi, bayang nyeri yang berdenyut
di dada kiri tiap-tiap manusia.

Adakalanya ia tak bisa
menggenggam jiwa.

/2012-2013

Sumber: Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya (Indie Book Corner, Yogyakarta, 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.