Puisi: Sanur – Dea Anugrah

Dea Anugrah

Hari telah malam
tetapi mereka pernah juga di sana.
Duduk berdiam-diaman
di atas sebuah kursi—yang mestinya
untuk selonjoran seorang diri.

Gampang betul, pikir yang perempuan,
mengenali bulan tembaga yang bersembunyi,
atau liuk ombak yang menjompak.
Tapi siapa benar mengerti
makna detak jantungnya sendiri?

Dan yang lelaki merunduk kembali.
Tak jadi dia bertanya:
adakah hantu-hantu belaka, cintaku,
yang berumah di pohon besar itu?

“Mestikah kita beranjak dari sini?”
Tiba-tiba kedengaran suara, mungkin semacam
gencatan senjata, atau nota damai
buat sunyi yang telah jadi tikai.

“Tidak. Kita hanya
perlu berhenti,” sentak yang lain.

“Bukan berhenti, katakanlah,
manusia butuh waktu.”

“Tapi apa yang waktu beri
kecuali fantasi yang berubah jadi jeri?”

“Hari depan belum juga kelihatan.”

“Maka hari depan itu, cintaku,
adalah jerit sedih camar putih
yang selamanya tergulung angin
di mulut karang.”

(2011-2013)

Sumber: Koran Tempo, 23 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.