Puisi: Roman Banjir – Astrajingga Asmasubrata

Astrajingga Asmasubrata

Cintaku air yang bikin banjir jalanan Jakarta;
mengalir dari Katulampa yang jebol; hanyutkan
rindumu — dari Bogor. Cintaku pun mengarus
pada lekukan pinggulmu. Di situ, tanganku
menjelma perahu karet tim SAR jemput para
warga yang nekat bertahan di rumah demi
menjaga harta bendanya. Timbunan sampah
dan lumpur seusai banjir surut adalah dendam
apabila kita berjumpa di jalan tapi tak saling
menyapa. Matamu melek tetapi hatimu merem;
aku berjalan sembari menata degup jantungku;
kau berjalan seolah meniti tangga darurat.
Cintaku pun memercik; dingin hatimu mengirim
gigil ke tubuhku. Haru menyeruak di mataku;
Inikah kasalehan cinta itu, yang bikin air mata
meleleh seperti nyala lilin di tenda pengungsian;
seperti muasal sesal buang sampah sembarangan;
seperti perihal sesal gampang naksir perempuan.

2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.