Puisi: Rumah Tanpa Plafon – Abdul Wachid B.S. (l. 1966)

Abdul Wachid B.S. (l. 1966)
Rumah Tanpa Plafon

1.
rumah tanpa plafon ini menempatkan kita
sebagai dalam penjara
tak perlu minuman dingin apalagi kipas angin
tembok-tembok telah cukup
membekukan belulang dan pikiran
tambah hujan yang mengukur panjang malam
kubenahi selimutmu yang dikoyak angin
dan kita berdekapan antara igauan dan impian buruk kota
seperti terkapar di trotoar
ditendang beribu bayangan, masa depan menjerit
kegelapan langit merebut napas dan nafsu
sesekali petir berkibaran di atas gedung
membakar, lalu mengerang
tapi dadaku belum cukup lapang, istri
menyembunyikan kecemasan matamu
cahaya lilin di sudut ruang digoyang
angin sela genting tua
seperti dua batu membeku
kita dicengkeram waktu dan nasib yang ganas
sepertinya kiamat sebentar lagi tiba

2.
kita telah coba mengerti
seperti panah didamaikan nasib
tapi dada belum cukup lapang
hingga hujan menderas
mengepung hari, membatu seperti
rumah tanpa plafon ini, menempatkan
kita untuk mensujudkan diri berkali lagi
tapi kita belum cukup punya kata
dan semua kembali memaksa diterima
kini kita dirajam kekosongan
dan kesepian yang dingin
meski tahu ada yang lebih pelangi dari
kamar tanpa langit ini: dunia yang jauh disana
tinggal erangan cahaya tengah malam
selebihnya sunyi
dan kiamat memenjara kita

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 7 Juli 1997

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.