Puisi: Saat Waktu Terputus-putus Lagi – Rio Fitra S.Y.

Rio Fitra S.Y.

Serupa tulisan di kertas pembungkus puisi, barangkali aku harus
belajar mengeja kembali. Huruf kapital makin terlihat suci
ketimbang huruf mungil dan miring.

Kau gemar ditinggalkan kereta di peron yang sama. Kehausan,
lalu meminum air mukamu sendiri. Muka asam jidat kisut.
Maka kau pura-pura terjaga sepanjang masa silam.

Serupa keputusan pleno di saat peristiwa telah dingin
meski tanpa es batu dan es kristal lima ribu sebungkus.
Peristiwa yang kehilangan selimut berbulu.

Terbangun tengah hari aku melewatkan tubuh hujah seorang teman
yang mati sakit perut, pesan orang lalu yang suka mengalihkan jalan,
dan keluhan orang di luar yang merasa terkurung.

Serupa bahasa yang membunuh para pembicara saat tak ada lagi
yang dapat dijelaskan dari ini beranda. Aku selalu berharap masa lalu
mengirimkan surat untuk sebuah kabar baru.

Kau katakan yang itu-itu juga: pemain bola dijual murah
ke klub mewah, mikrofon berserah pada orang yang malas sikat gigi,
dan telinga tersumbat spiker dua puluh inci.

Tapi tak serupa hari minggu saat kuturut ayah ke kota,
kata-kata menyala di antara papan iklan sabun colek dan soda,
namun redup di antara doa-doa.

Padang, 2015

Sumber: Koran Tempo, 7 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.