Puisi: Siau – Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

meletus lobang magma
cahaya belerang merah
kepundan pongah
dua pangeran berebut tahta
melelehkan lava
menghanguskan darah
di lereng kebun pala

ini sejarah arang menyemburkan debu
menjadi kubah batu
menggilas Katutungan
melongsor dari puncak gunung
Karangetang yang terpancung
menembus Ulu menjadi padang pasir
mendidihkan hati tak jera bertarung

darah siapa yang tergenang di Liwua Daha
kalau bukan sejarah tua yang lusuh
rakyat diperadu menggali sumur harta para datuk

abu turun dari angkasa
memberi makan akar pala
yang hanya menyisakan asam pekat
di hati para kuli yang terus meratap

pertapa tua itu bersila
dengan punggung yang letih dan luka
karena digali buat rumah bersembunyi
kota di bawahnya tak lagi tempat canda
anakanak dara, kecantikan taman raja
orangorang asing menguasai kebun pala
menguasai kehidupan sudut kampung
yang dulu bermandikan kerlip kunang
yang menabung phosphor buat cahaya malam

sempurnalah kegelapan di atas batubatu
yang terus digelindingkan gempa
menimbun cerita lama
yang naifnya
sekekar gelombang menggempur Ulu
dibawa taufan abad
yang abadi melancarkan peperangan

2004

Catatan: Siau adalah salah satu kerajaan besar di kawasan Nusalawo purba. Pengaruhnya tidak saja di wilayah Nusalawo, tapi menembus Mindanao Selatan, daratan Minahasa dan Bolaang Mangondow, serta pinggiran Gorontalo. Kerajaan ini termasyur dengan cerita peperangan laut yang banyak meraih kemenangan, terutama di zaman Laksamana Laut Hengkeng Naung. Berdiri pada tahun 1510, dengan raja pertamanya Lokongbanua II (1510-1540). Lalu digantikan puteranya Posuma, lewat peperangan besar melawan saudaranya sendiri, Akumang. Dalam perang saudara ini ribuan orang mati dan kawasan peperangan yang terletak di sekitar desa Mbeong, Siau Barat menjadi kolam darah (Liwua Daha). Memiliki gunung api yang aktif dengan ketinggian 1.784 meter dpl yang menjadi penyebab gempa sepanjang tahun. Tanaman pala tumbuh subur di sini. Menjadi daerah pemasok terbesar kebutuhan pala dunia. Karena kekayaan pala itu, di masa penjajahan, daerah ini menjadi arena rebutan pengaruh antara Spanyol, Portugis dan Belanda. Peperangan pun terjadi dalam beberapa babak yang mengorbankan banyak nyawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.