Puisi: Lelaki di Batang Tapak Liman – Yuli Nugrahani (l. 1974)

Yuli Nugrahani (l. 1974)
Lelaki di Batang Tapak Liman

Sedetik ketika tanah dekil menumbuhkan biji gulma
tapak liman menggeliat dari sela kerikil menjelma pagi.

Lelaki itu sudah menunggu sejak subuh belum bertabuh
mesra merayu di gerigi daunnya yang lancip berpeluh.

“Aku menumpang udara mengambil semesta yang kuperlu
juga kesempatan merapat di batangmu, Kekasih.”

Lelaki itu mengikatkan diri pada tangkai tapak liman
ikut menjulur pada titik tumbuh merangkai ketinggian.

Tak ada yang bisa membatalkan hasratnya
terlebih ketika luka ikut menjadi balatentara.

“Aku akan tetap di sini menunggu ungu di pucukmu
sementara serupa kasim tersemat takdir, tak mengapa.”

Lagak tapak liman tak terduga tak terkenali tabiatnya
pun lelaki itu bersabar terus menyapa Kekasih, Cahaya.

Pada batang tegak dan daun yang setia merapat tanah
dia percaya sedang menuju hakekat tantra sempurna.

Inilah saat dia mengemas seluruh masa sebagai penantian
hingga nanti suara lugas berucap di seluruh nada Amin.

(2013—2014)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 1 Juni 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.