Rio Fitra S.Y.
Aku orang kota yang terus
menyeret goni berisi kerbau dan anak kecil
mandi di satu tepian,
sawah-sawah gagal panen,
berjinjing-jinjing aroma
durian masak, tukang rabab
diserang asmara, dan gerombolan
anak muda pecinta orgen tunggal.
Aku orang kota
yang tersandung jenjang berjalan,
tergoda membeli baju seken, tertidur
di antrian bank, mual setelah makan
ayam goreng Amerika.
Aku orang yang dikalahkan
meja-meja kantor
dan malam yang dipenuhi
tivi dua puluh inci.
Aku orang kota beraroma
padi basah, berwarna lontong malam.
Jika gulai paku besi dipendam,
air mataku mentah diperam.
Padang, 2014
Sumber: Koran Tempo, 23 Maret 2014

Terima kasih atas perhatian redaksi. Boleh koreksi sedikit? Pada bait kedua, baris ketiga, “mulai” seharusnya “mual. Makasih ya. 😉