Galih Pandu Adi (l. 1987) Pulang tuhan, luka dalam sajakku bertubi-tubi menujumu lantas, malam yang entah kelak gelas-gelas kosong tanpa arak atau sajak, kutenggak di rumahmu, aku pulang tanpa wajah […]
Puisi: Sketsa Bulan Retak di Atas Ranjang – Galih Pandu Adi (1987)
bilamana bulan meretak, lalu kuhirup itu pendar cahaya keperakan dari ruas-ruas dadamu. ada yang menyesak dan penuh di paru-paru. sedang kau memang tak pernah cukup dalam puisi, dalam halaman-halaman buku […]
Esai: Pantun, Akar Puisi Liris Indonesia
Pantun: Akar Puisi Liris Indonesia Oleh Hasan Aspahani PANTUN kini bertahan sebagai pantun jenaka. Sekadar untuk lucu-lucuan, pembangun suasana gembira. Pantun kini setiap kali dilisankan, sebaris demi sebaris, disambut dengan […]
Puisi: Rel Kereta dan Stasiun di Telapak Tanganmu – Galih Pandu Adi (l. 1987)
Galih Pandu Adi (l. 1987) Rel Kereta dan Stasiun di Telapak Tanganmu dan kita, memang telah memilih jalur kepulangan sendiri rel-rel kereta yang melintang aku kau melaju tanpa doa atau […]
Puisi: Kepada Kutukan – Mohammad Ali Tsabit – (l. 1996)
Mohammad Ali Tsabit – (l. 1996) Kepada Kutukan Berikan padaku seribu duka saksikan, bagaimana dunia gemetar di tangan sajak-sajakku walau perang dan kesunyian kegilaan dan kutukan menetak diriku mereka tak […]
Puisi: Penyair Sepi – Noor Aini Cahya Khairani (1959-2003)
Noor Aini Cahya Khairani (1959-2003) Penyair Sepi penyair yang lahir dari puisi mencari cinta menelusur jalan sepi memikul beban semesta tuhan terbaring di hatinya sudah sampaikah perjalanan o, penyair menawarkan […]
Puisi: Di Hulu Kali Ini- Noor Aini Cahya Khairani (1959-2003)
Noor Aini Cahya Khairani (1959-2003) Di Hulu Kali Ini di hulu kali ini aku ingin menambatkan perahu melepas beban dan pakaian. mandi sepi lalu tenggelam di dasar waktu Sumber: Sungai […]
Puisi: Kisah Sebuah Perjalanan – Noor Aini Cahya Khairani (1959-2003)
Noor Aini Cahya Khairani (1959-2003) Kisah Sebuah Perjalanan separuh usia mereka jalankan perahu dari tepi ke seberang, terpandang: laut damai, alam permai, sesekali angin mengundang badai. tapi perahu tetap ke […]
Puisi: Mohon Doa Restu – Noor Aini Cahya Khairani (1959-2003)
Noor Aini Cahya Khairani (1959-2003) Mohon Doa Restu mengisi ruang padat, waktu menjadi tua pertanyaan mendesak tepi agenda kertas, daun, pasir atau tanah liat tak lagi mewujudkan impian busa sabun […]
