Ramon Damora : dengan nas nyiur purnama kuntum elisium gugur bersama krisantemum teredam kalis cengkeh bibirmu champs de elysees masih di situ mengais pinang jalan tuileries cuma terkancip kembaran kaca […]
Puisi
Puisi: Kematian Kepompong – Dorothea Rosa Herliany
Dorothea Rosa Herliany engkau ikut dalam arakarakan itu. menuju rumahcinta yang tak berpintu. aku yang mengusung dan kitagali liang buat dirisendiri. doadoa lupa dibacakan: tibatiba terucapkan amin yang berkepanjangan. engkau […]
Puisi: Surabaya – Agam Wispi (1930-2003)
Agam Wispi (1930-2003) tiap kita jumpa surabaya aku selalu remaja gembira kepada kerja pasti kepada harapan surabaya laut dan kota rata surabaya bau keringat bau kerja ketegarannya harum semerbak dan […]
Puisi: jangan sebat kami dengan rotanmu, jangan kutuk kami jadi melayu – Marhalim Zaini
Marhalim Zaini suara itu terdengar seperti gaung jejak terompah kayu pada tengah malam yang legam, seperti suara sebuah tongkat yang menggigil demam, terseret-seret sunyi yang telanjang dikaukah pawang bertandang malam-malam […]
Puisi: Pertemuan di Danau – Agam Wispi (1930-2003)
Agam Wispi (1930-2003) danau putih sajakpun putih di Toba tenggelam sepenggal kasih sampan telungkup aku berenang megap-megap ke tepi tapi menang apalah kalau indah hanya seperti buih asap mesiu mengantarku […]
Puisi: Pendatang – Gus tf
Gus tf Nanti, ketika aku pergi, akan tiba pendatang lain dengan kalimat lain. Mungkin mereka jelaskan, segenap misteri kehidupan; tetapi tidak tentang mereka sendiri. Selalu, kata mereka, “Ada lampu. […]
Puisi: Daging Akar – Gus tf
Gus tf akhirnya, siapa kausebut kini: Si serat dingin ataukah daging yang terjanji? Seperti takdir, sosoknya rebah membuntuti. Hanya pada waktu ketika bergerigi, akan bisa kutangkap ia: Saat mengerut […]
Puisi: Bulan Ruwah – Subagio Sastrowardoyo (1924-1995)
Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) Kubur kita terpisah dengan tembok tinggi Sebab aku punya Tuhan, dia orang kapir. Di yaumulakhir roh kita dari kubur akan keluar berupa kelelawar dan berebut menyebut nama […]
Puisi: (Apa yang tak dapat kauhancurkan) – Sitor Situmorang (1923-2014)
Sitor Situmorang (1923-2014) Apa yang tak dapat kauhancurkan dengan tangan, Hancurkanlah dengan sajak, dengan demikian kau membangun lagi dindingnya waktu. Sumber: “Dinding Waktu” (Budaya Jaya, 1976)
