Sitor Situmorang (1923-2014) Buat Rivai Apin Sudah lama tidak ada puncak dan lembah Masa lempang-diam menyerah dan kau tahu di ujung kuburan menunggu kesepian Aku belum juga rela berkemas […]
Puisi
Puisi: Penjual Celana – Joko Pinurbo
Joko Pinurbo Konon ia seorang veteran, bekas pejuang kemerdekaan, sehari-hari bergiat sebagai pedagang celana di sebuah pasar di dekat kuburan di pinggiran kota. Orang-orang sangat suka membeli celana bikinannya karena […]
Puisi: Dialog Bukit Kemboja – D. Zawawi Imron
D. Zawawi Imron Inilah ziarah di tengah nisan-nisan tengadah di bukit serba kemboja. Matahari dan langit lelah Seorang nenek, pandangannya tua memuat jarum cemburu menanyakan, mengapa aku berdoa di kubur […]
Puisi: Kembalikan Indonesia Padaku – Taufiq Ismail
Taufiq Ismail Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian, Hari […]
Puisi: Berdarah – Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri Hari ini aku berdarah. kapak hitam menakik almanakku pecahlah rabuku mengalirlah pecahlah seninku mengalirlah pecahlah selasaku mengalirlah pecahlah jumatku mengalirlah darah mengalir dalam denyut dalam debar. darah […]
Puisi: Dalam Doaku – Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara Ketika […]
Puisi: Pada Sebuah Pantai: Interlude – Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil. Yakni ketika pasang berakhir, dan aku menggerutu, “masih tersisa harum lehermu”; dan kau tak menyahutku. Di pantai, tepi memang […]
Puisi: Daerah Perbatasan – Subagio Sastrowardoyo (1924-1995)
Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) I Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati. Tak boleh lagi ada kebimbangan memilih keputusan : Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi. Kemerdekaan […]
Puisi: Pamflet Cinta – Rendra (1935-2009)
Rendra (1935-2009) Ma, nyamperin matahari dari satu sisi. Memandang wajahmu dari segenap jurusan. Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan. Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku. Aku merindui wajahmu. Dan aku melihat […]
