Esai: Skandal Sulak dan Guci Pandora Sastra Kita (4 – habis)

Skandal Sulak dan Guci Pandora Sastra Kita (4 – habis)

Oleh Hasan Aspahani

Kepengarangan bukanlah kebahagiaan bagi saya, tapi justru kesengsaraan. Saya sudah terikat oleh kode etik terhadap diri saya sendiri, bahwa tidak menulis berarti berkhianat terhadap takdir. ~ Budi Darma, “Pengakuan”, 1981.

ANAK zaman sekarang pasti akan berkomentar enteng, “serius amat sih jadi pengarang?” Bagi Budi Darma, menjadi pengarang memang serius, ia menyebutnya takdir. Baginya bakat, kemauan, dan kesempatan menulis hanyalah rangkaian pernyataan takdir. Bahkan hambatan untuk menulis, juga mungkin kesulitan menyiarkan tulisan, tak lepas dari takdir.

Sulak adalah pengarang yang seperti Budi Darma saya lihat juga mengemban kesengsaraan kepengarangan. Dengan caranya. Dia membenci karya buruk. Dia mengajak orang banyak untuk membenci karya buruk. Dan itu bagus. Juga penting. Ia melakukan banyak hal untuk menghindarkan sastra Indonesia dari dinodai oleh karya buruk.

Tapi ia juga bisa sedikit terpleset. Skandal A.S. Laksana, atau insiden, atau kalau mau disebut eksperimen, adalah eksperimen yang gagal sejak awal dan bagi saya tak menghasilkan apa-apa, kecuali bahwa orang bisa saja terjebak dalam tindak plagiarisme, meskipun rasanya tak mungkin dia punya motif dan potongan jadi seorang plagiator.

Plagiarisme, apa yang oleh Jawa Pos disebutkan sebagai pengambilan sebagian atau keseluruhan karangan (karya) orang lain dan menjadikan (menyatakan) sebagai karangan (karya) sendiri, dijadikan alasan Jawa Pos untuk mencabut cerpen A.S. Laksana. Jawa Pos menyesalkan tindakan A.S. Laksana yang dianggap telah melakukan pelanggaran norma itu.

Apa yang hendak dibuktikan A.S. Laksana dengan tindakan “bersenang-senang setelah menyiksa diri berbulan-bulan”? Kita bisa simpulkan dari penjelasan dalam pengakuannya. Ia bilang, kepada para peserta kelas penulisan yang ia asuh, bahwa dimuat di koran adalah urusan mudah. Mudah? Bagaimana bisa mudah? Kata Sulak, “jika cerpen kalian saya kirim ke koran dengan nama saya sebagai penulisnya, cerpen itu pasti dimuat”.

Dengan kata lain, Sulak mendakwa, redaktur sastra di koran bekerja dengan bias nama besar. Dengan kata lain Sulak mendaku bahwa namanya adalah nama besar. Brand jaminan mutu cerpen bagus. Cerpen apapun yang dikirim setelah diberi cap A.S. Laksana pasti dimuat.

Maka digelarlah percobaan itu. Cerpen yang dikembangkan oleh murid Sulak, di kelas penulisannya, disunting oleh Sulak (ini juga disebut sebagai kerja pemolesan yang menjamin mutu cerpen itu), dikirim ke Jawa Pos atas namanya, dan dimuat. Tapi benarkah Jawa Pos memuat karena itu adalah cerpen Sulak?

Tidak. Jawa Pos membantah, “Pernyataan A.S. Laksana bahwa redaksi Jawa Pos mempertimbangkan nama penulis dalam pemuatan karya merupakan opini pribadi dan tidak mencerminkan fakta serta kebijakan redaksi Jawa Pos.” Kalau mau bersikukuh dengan keyakinannya dan dakwaan yang mendasari eksperimennya Sulak seharusnya bisa membuktikan dan menunjukkan berapa banyak cerpen buruk dalam satu kurun waktu tertentu yang dimuat Jawa Pos yang ditulis oleh nama besar dan mutunya buruk.

Sulak tampaknya anggap angin lalu tuduhan plagiat, dan menolak alasan Jawa Pos mencabut karyanya. Dalam benak Sulak, seperti dia tulis di pengauan terbukanya, Jawa Pos tidak kecolongan dan tidak dirugikan. Jawa Pos, kata Sulak, memuat cerpen yang bagus, kok.

“Saya mengedit cerpen itu dan menjadikannya lebih bagus, sebab memang itu urusan editor. Dan dalam hal ini, saya editor,” kata Sulak. Masalahnya Sulak mungkin melupakan satu hal penting: editor tidak akan mengakui karya yang ia edit sebagai karyanya, dan tidak juga mengirimkan hasil editannya atas namanya ke media. Atas nama apapun, pun jika dimaksud sebagai eksperimen.

Jadi sesungguhnya eksperimen Sulak cacat pada metode, bahkan menabrak pagar batas persoalan lain. Ibaratnya Sulak adalah empu yang mengajarkan muridnya bikin keris. Ia lalu ingin membuktikan kemampuan keris itu mematikan orang. Dicarilah orang sebagai sasaran, lalu ditikam, dan mati. Sang empu tak merasa bersalah telah membunuh orang, sebab yang penting baginya adalah eksperimen untuk membuktikan premisnya bahwa kerisnya ampuh.

Metode pelatihan di kelas menulis Sulak yang “menyiksa berbulan-bulan” dan “hasrat untk mengirim (dan dimuat) ke media massa, itu apa kaitannya dengan bias nama besar? Rasanya juga tak ada, paling tidak tak berkaitan sama sekali dengan eksperimen Sulak, kecuali memang sudah sedemikian putus asanya para murid Sulak karena telah kirim karya dan tak juga dimuat-muat. Memang, tak ada metode pelatihan yang dengan cespleng membuat seseorang memiliki nama besar.

Kalau memang metode pelatihan yang menyiksa itu mangkus, harusnya itulah yang membuat si murid bisa menulis dengan hebat, menghasilkan karya hebat, tersiar di mana-mana, dan membesarkan namanya, lalu dengan nama besarnya sendiri kemudian dengan mudah bisa menembus media manapun.

Apalagi Sulak juga menyebutkan bahwa menerbitkan tulisan di media-media massa hanyalah salah satu cara untuk melihat bahwa ketekunan mereka melatih diri tak pernah sia-sia. Dia benar belaka, itu hanya salah satu cara.

Cara lain? Saya hanya menyebutkan, kumpulkan dalam buku tawarkan ke penerbit, atau coba siarkan di platform digital yang kini rajin berburu naskah, atau bacakan, rekam, dan siarkan di podcast. Kalau cerpen para murid Sulak itu adalah karya bagus yang adalah karya bagus dan adalah karya bagus, kemungkinan besar dengan mudah akan diterima publik. Kita tahu beberapa orang telah membuktikan itu.

Saya telah menulis tanggapan saya, dan saya rasa Sulak memang mengundang orang untuk menanggapi. Sulak tidak meminta maaf pada siapapun, pasti karena ia tak merasa bersalah, dan karena itu mungkin ia menyatakan akan melakukan eksperimen lain, atas saran orang. Ia akan kirim karya dengan nama samaran ke sejumlah surat kabar.

Bagi saya itu seperti anak-anak yang berkelahi dengan senjata kayu, lalu seorang berteriak, “tanggung amat pakai pisau aja sekalian”. Sulak kini menggenggam pisau dengan dengus beringas dan tetap liar.

Ia berterima kasih pada tanggapan yang menyokongnya, dan menyebutkan ada yang ramai-ramai menimpukinya, mungkin ditujukan pada pihak lain yang tak sependapat dengannya. Mungkin termasuk tulisan saya ini. Mohon maaf, saya hanya melihat guci pandora sastra yang terbuka dan keluarlah dari sana berbagai keburukan menandainya satu per satu sebisa saya. Lalu saya, seperti Pandora, akan kembali menatap ke dasar guci itu dan melihat di sana ada harapan. Sulak, kelas menulisnya, murid-muridnya, ada di dasar guci itu, bekerja keras, menyiksa diri, dan bersenang-senang.(habis)

Baca juga:

Esai: Skandal Sulak dan Guci Pandora Sastra Kita (1)

 

Esai: Skandal Sulak dan Guci Pandora Sastra Kita (2)

 

Esai: Skandal Sulak dan Guci Pandora Sastra Kita (bagian-3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.