Puisi: Amarah – Dody Kristianto

 Dody Kristianto

Bahasamu menakik kiri kanan, bahasaku
mengendap menyelinap. Perihal berkendara
kuda hijau, inilah aku yang patut kau ujar
mahacergas. Kesiurku gejolak singkat yang

menekuk. Lembar pengetahuanku sebenarnya
kalibut sesat pengungkit angkara. Perhatikan,
tak harus aku menyibak pelbagai pustakamu.

Jurus singkatmu mutlak tak sepadan di hadapan
goda yang kulepas dalam desar desirmu. Syaraf
degupmu tentu gampang saja kukelokkan
lagi kuserimpang. Dalam hitung sekejapan,

gamang gerakmu, nanar segala tatapan. Yang
kau hafal taklah lebih niat meringkus dan
menghantar si penghalang pulang. Demi yang
tak sabar, demi merah menantang, demi gulita

pandangan, kupepat benar lafal istigfar dan laku
sabar yang semayam. Dengar bujang, memucuklah
geloramu pada dendam berapi-api. Harus gemar
syahwat melibasmu bangkit dan menerkam.

(2014)

Sumber: Koran Tempo, 7 Desember 2014

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *