Puisi: Bagaimana Rasanya Menjadi Tiada? – Rio Fitra SY (l. 1986)

Rio Fitra SY (l. 1986)

Bagaimana Rasanya Menjadi Tiada?

Kapal terbang tak pernah percaya
pada pelabuhan udara. Aku di dalamnya
dengan awan mengguncang-guncang
adalah waktu yang baik untuk mati.
Kabin dihancurkan cuaca. Aku di luar
jangkauan pencarian. Maka jika kau mau,
kau bisa menunggu, menganggapku masih
di perjalanan, masih di udara. Maka kau
perlu menghadapi batu nisan.

Aku naik puncah rumah, seperti air laut
menaiki Nanggoe, untuk atap yang ditiriskan
hujan. Tulang atap sembunyi pandang. Aku
mengayunkan kaki yang sangsi cara melangkah.
Lalu jatuh tanpa gaya. Sudut dipan menanti
bagian belakang kepala. Darah menyerupai
lukisan Affandi Koesoema.

Aku diseberangi jalan. Truk kampas putus rem
seperti pejabat yang ikut pemilu berulang kali.
Aku sepeda tak berlampu. Mungkin kau tak perlu
tahu bagaimana sebuah penyeberangan akan berakhir.
Dilindah roda ganda truk gandeng. Diterjan bendi
tak berkaca mata. Aku beradu kambing dengan
pembalap berseragam sekolah. Itu tidaklah
benar-benar penting.

Hanya kematian yang tak akan menghentikan
ulang tahunku. Kau tak bisa berhenti merayakannya,
tapi jangan bertanya: bagaimana rasanya menjadi tiada?

Sumber: Pasien Terakhir (Basabasi; Yogyakarta; 2017)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.