Puisi: Bulan Luwung Bata – Bode Riswandi (l. 1983)

Bode Riswandi (l. 1983)
Bulan Luwung Bata

BULAN SEMPURNA: dan aku bicara padamu bersilang mata
Tanpa harus lari, dirimu selalu mengejar dan tiba lebih awal
Rumah labuh ke dalam tubuhmu. Tahun-tahun kusam tumbuh
di pintu jati. Daun jendela dengan gordin hijau muda juga atap
dari rumbia mengekalkan dirinya di pucuk ibun

“Di cakrawala, aku rindu hujan benar-benar turun dari langit
yang tanak” ucapmu. Dunia jadi tak selebar dadamu, ia berlari
ke ranting waktu dan selalu sampai di ranting yang baru
Dirimu cukup tanak untuk merangkum segala peristiwa rupanya
Di mana kelak mereka yang terbiasa memalingkan punggung
pasti kembali ke kampung halamannya. Sendiri-sendiri

Aku bicara padamu dengan bolamata yang terbang dari kelopaknya
Sunyi tak reda dan tanganmu yang hijau memainkannya bagai pion
catur yang dijatuhkan satu-satu. Tinggallah dua pion dengan warna
sepasang, kau dan aku sepakat jadi bagian sunyi yang kita mainkan
di dalamnya.

Aku mencintai dirimu dengan setumpuk kecemasan dengan rindu
yang menguap ke mana suka. Biar kukenang semesta dengan terang
bolamata.

BULAN SEKERAT: dan aku bicara padamu dengan bahasa tanak
Tentang jalan berlobang dan bayang-bayang pemuda kampung
yang menolakkan punggung. Ke mana mereka pergi? ketika bulan
jadi lempeng-lempeng tembaga dan langit jadi rumah madu di sini
Wahai lebah, jadilah kamu keringat mereka yang tertanam di tanah.

BULAN HABIS: dan aku bicara padamu ketika segalanya tinggal
gema

2009

Sumber: Mendaki Kantung Matamu (Ultimus, Bandung, 2010)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.