Puisi: Exquisite Corpse – Dedy Tri Riyadi (l. 1974)

Dedy Tri Riyadi (l. 1974)
Exquisite Corpse

Dia membagikan empat potong
kain, dan kau mulai menuliskan
puisi-puisi, berbeda satu sama lain;

1/
Bagimu, dirinya adalah peta
Baginya, kau tubuh semata.
Waktu jadi perjalanan tak hingga,
tak ke mana-mana,
tapi tak di situ-situ juga.

Di tubuhmu, dia bicara angka:
gula darah 124, kolesterol 75,
Dan dalam setiap jaraknya,
kau bertanya: “Bagaimana dengan cuaca?”

Tak ada gerimis atau salju di bahunya.
Tapi kau cemas dan ragu menjalaninya.

Dia memecahkan tubuhnya
jadi empat, dan kau adalah
yang kelima. Agar sempurna
tanganmu menjelajahinya.

2/
Tuhan, jeritmu, Penjahit Sempurna

Dunia adalah kolase kain perca.
Penuh corak & warna.
Di tubuhnya, kau tak henti berdarmawisata
— mengendarai usia.
mempelajari yang tak ada dan yang tak terhingga.

Cinta – jelujur benang itu – harus jadi garis
dan tanda, katamu, supaya kau tak sering bertanya
atau tersesat di dalamnya.

Tapi, menurutnya,
tak akan ada doa
tanpa ada yang terbuka
untuk menerima –

karenanya,
dia berikan tubuhnya
untuk kaujadikan peta.

Bukan semata kain perca.

Meski kau cari juga potongan yang lain.
Kekosongan-kekosongan itu.

Dan kaucari juga penggenapan itu.
Meski sekadar kain peluh

di tubuh waktu

3/
Waktu akan runtuh
Dan keabadian berpenuh
Setiap mata akan selalu pejam
segala badan menemu redam,
tapi jiwa tak kunjung temaram.

Dia terus menunggu sisik ular itu
kembali jadi kulit khuldi
meski mustahil.
Meski sampai padam gemintang,
dan pasir jadi tiang garam.

Cinta, pisau berkarat itu, tetap
diasah hingga berkilat, katanya.
Sampai luput segala kabut,
yang remang, yang gelap,
seperti tertusuk dan terbelah.

dan membuka seluruh pintu
juga jendela. Menampakkan rahasia
paling purba: paruh gagak
di padang pengembaraan.

4/
Malam putih
dengan rembulan merah.
Pucuk-pucuk pinus
seperti tergantung
dan tak ingin ditegakkan lagi.

Dalam kabut hanya ada doa
mengambang seperti tangga gerimis.

Kaurapatkan mantel
dan mendekat ke altar kapel.
Seolah dunia hanya bayangan
yang jatuh tersimpuh di lorongnya.

Kau buru bara kesepian itu dengan janjinya
:percayalah pada terang itu…

Tapi malam makin putih
dan rembulan merah tegak
di atas pucuk-pucuk pinus
yang tergantung,

dan doa berkabut.

Hanya kaudengar kata “amin”
mengamankan kesepian itu
lekat di leher mantelmu
yang kaukatupkan rapat-rapat.

Di luar kapel, gerimis kian pekat.

2016

Sumber: Kompas, Sabtu, 19 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.