Puisi: Kesaksian Seorang Ahli Tata Bahasa – Arif Fitra Kurniawan (l. 1985)

Arif Fitra Kurniawan (l. 1985)
Kesaksian Seorang Ahli Tata Bahasa

Sudah kububuhkan juga beberapa umpama
Di antara kantung mata dan jantung berdegupmu
Di antara ujung kaki dan pikiran buntumu

Agar mereka para pengikut tarekat bintang suci
Atau kaum penyembah empedu bisa
Dengan saksama membacanya sebagai marka
Dan lekas-lekas memboyong tafsir terang itu
Kembali

Ke arah bukit dan jurang hampa yang
Hulunya pernah kau kira tumbuh dari
Pori-pori kering perut ibundamu

Ibundamu yang kaubiarkan begitu sendirian
Membenci bekas mentega di ujung celemek
Kenapa tak bisa noda itu rekah menjadi selat saja
Bagi Barus atau Sunda Kelapa
Bagi Bangka atau Madura

Kau tahu melulu ibundamu akan jatuh sedih
Tak bisa membebaskan kata berpisah itu
Dari cengkeraman berbilah-bilah tanda kurung

Semenjak jiwanya pada sebuah petang
Disusupi ribuan hantu bangkit dari kota busuk
Yang mendesaknya ikut mengarak dan memangguli
Peti mati berisi rasa sakit yang pernah menggerogoti
Separuh bagian sajak-sajak Dina Oktaviani

Betismu senantiasa terasa kram,
Mendapati setiap tempat baru
Yang kau singgahi ternyata selalu saja
Lebih mengenaskan dari bekas tapak
Pinggiran kota Tanjung Karang

O,
Selain mata badik, adakah lagi yang bisa kuharapkan
Guna beradu-aduan dengan tajam mata kerani
Milikmu yang berabad-abad kaulatih sudah
–tak cuma menyanyat, tapi juga menggempur
Masa lalu buruk di selembar kertas kosong

Manalah mungkin aku menyodorkan luka
Ke hadapan kelopakmu yang kadung berkabut itu
Biarlah ia menjadi warisan sejati milik keluarga Aspahani
Agar darah keluarga mereka yang kuning semu
Tetap bisa merembes dan melabur dan
Menyembunyikan dadu permainan ular tangga,
Nama pengarang kitab puisi, juga empat lembar
Pakaian tertinggal di binatu

Tentu dari bayangan si gipsi tua yang selalu bisa
Menyilaukanmu hingga kau salah ketika mengira
Apakah ia sedang berkalang atau justru berkalung
Maut

Tapi, seberapa penting persamaan kata atau lawan kata
Di dalam kegelapan merajalela yang kukisahkan
Jika pandanganmu terlanjur tak percaya pada semua
Yang kausaksikan (?)

Semarang, 2020

Sumber: Puisi Terpilih “Menafsir Mata Penyair” (Mata Puisi, 2020)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.