Puisi: Moesin Derep – Moesin Meladjo – M.J. (1873)

M.J.

1.
Musin motong sudah datang,
Apa kita dengar itu?
Padi di sawah sudah matang,
Kita orang ramai pergi di situ.

2.
Pada waktu siang hari,
Tranglah cahyanya matahari,
Dengar di kanan, dan di kiri,
Segala burung pada menyanyi.

3.
Pada tenga malam yang sepi,
Burung kucipet menyanyila,
Membri tahu pada kami,
Musim motong suda datangla!

4.
Ini musim penuwian,
Kita dapat badan segar,
Potong dengan kasukalin,
Janganlah sayang suar (kringat(.

5.
Petik! Kumpul dengan baik,
Janganlah ingat sungut,
Potong padi itula baik,
Bua-bua klak dipungut.

6.
Syukurlah bulan Maulud,
Memberi kita isi perut,
Angkau kasih pangrasaan,
Allah punya kacintaan,

7.
Ini bulan memang waktunya,
Hatsil tana dikumpulkan,
Tetapi biar samowanya,
Tuhan jangan dilupakan.

8.
Tuhan ada puhunn slamat,
Yang kasi segala berkat,
Biarlah kita jangan lambat,
Dari dosa lekas tobat.

9.
Padi yang jeli selamanya,
Tunduk dirinya pada temannya,
Tapi padi yang tra isinya,
Tinggi hati itu adanya.

10.
Biarlah kita samowanya,
Seperti padi yang berisi,
Tunduk diri selamanya,
Pada Allah Yang Mahasuci.

Sumber: Meneer Perlente – Antologi Puisi Periode Awal (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2009), disalin dari Bintang Djohar, No. 17, 3 mei 1873.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.