Puisi: Setelah Petang – Adimas Immanuel (l. 1991)

Adimas Imanuel (l. 1991)
Setelah Petang

“Pulanglah, berdamailah,” kata sebuah suara petang ini.
Suara yang terbang rendah setelah angin kota bersijingkat
ke arah hutan dan wangi cemara tak menghapus
bau hangus jalanan. Penciuman kita telah tahu
ada yang selalu terbakar dalam
perjumpaan dan perpisahan.

Setelah petang kenangan tentang rumah adalah rawa
muncul dan membenamkan kegamangan orang jauh:
ingatan tentang ranjang tua, gonggongan anjing,
foto ayah-ibu, piring-piring beling, akuarium,
kelokan gang sempit, lampu jalan dan kau.

Wajahmu berkelebat seperti arwah para jagal
selepas jam tidur kita, menghantui kesadaranku
dengan kelebat cita, harap, doa, dan putus asa:

kau telah
menjadi dongeng sebelum
para penderita menemukan kata pembuka

kau telah
menjadi jendela yang setia
menantiku pulang untuk mengaku terluka

 

Sumber: Kompas, Sabtu 29 April 2017

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.