Puisi: Tanah Aswa – Mira MM Astra

Mira MM Astra

1/

Pertama adalah hutan tua
dan bukit binasa
yang lingkup dan ujung gulita
lelap seperti kukusan
yang tertelungkup di lapisan ingatan

2/

Lima ujung
mendekap pundak tebing
di mana delapan raja delapan ratu
menunggu mengisi mulut di tanah
mulut yang tersangga kelabu batu

3/

Namun kelabu
adalah timbunan waktu
yang menempa emas dari pecahan petang
yang menurunkan kubur bulan
tempurung kuningan
juga kubur anak kuda
dan pintu patung manusia
lalu berkata pada dirinya:

“Berkuasalah atas yang bersayap
yang berkeriapan
yang bergerak
yang merayap merangkak
lalu gantungkanlah dua bulan
dua bintang katai putih
dengan berkendara mata pelangi”

4/

Siapa yang menyangka
bintang kitai putih dihembus panas selubung
dan kematian bulan selalu dikenang
maka yang bersayap yang berkeriapan yang bergerak
di atas air berkumpul
menerbangkan siul-siul semerbak
cendana pemilah batas pekat

5/

Pada tujuh rentang kedalaman terang
menembus mulut di tanah
yang tak usai berguncang
menggoyang batu-batu
di mana delapan anjing melolong
membangunkan lebah delapan sarang

“Beranjaklah, beranjaklah
bawalah ingatan hutan tua dan bukit binasa
dalam luas dadamu menuju daratan”

6/

Di lapisan taman kedelapan
pada halaman rata dan balai bercahaya
dalam bayangan pohon jeruk dan pohon jati
layang kabut dan elang terbang
menghambur ke tanah dan batu
menimbun rumah air
di mana ingatan kembali meniti
tangga besi dan teras kayu

“Ambillah segala yang bernyawa
sebelum kau kenal semak dan hujan.”

/7

dengan sampan randu dan puli
melampaui lautan dan api
nuku–hara telah mencapai daratan
satu-satunya pertahanan
bagi segala penggalan kemungkinan

10 Januari 2014

 

Sumber: Kompas, 16 Februari 2014

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.