Puisi: Tentang Sebuah Selat dan Muara – Ali Sadli Salim (l. 1978)

Ali Sadli Salim (l. 1978)
Tentang Sebuah Selat dan Muara


Ini kerinduanku,
Tentang muara, huma, dan pantai.
Selaksa tanah licak di peraduan handil
Aku lahir di gulungan ombak.

Nelayan yang berlabuh di muara-muara
Memimpi sejengkal harap
Di karang-karang dalam selat
Terbangun dari karam kapal pedangkang.

Tepian pantai yang lepas lelah bersama ombak.
Serpih mimpi anak-anak.
Bakau-bakau tumbang dalam keranda,
Berdepa kini terkapar di lumpur likat.

Huma yang rebah dalam sawah-sawah,
Mencair dalam pestisida.
Kebun kelapa yang juntai,
Lunglai dalam pelukan kilang dan pipa .

Sejengkal tanah menjadi tambang,
Sedepa tanah menjadi kilang.
Lalu hutan rubuh, dalam bising gergaji.
Mimpi yang mungkinkah terbeli?

Layang-layang berkarat,
Di langit-langit bubungan rumah.
Tanah menjadi begitu mahal,
Hanya sekedar untuk bersijingkat.

Bola plastik menepi di bibir pantai,
Pertemuan sungai dan selat.
Warnanya kusam, seperti buah yang diperam.
Maniskah?

Ini tentang kerinduanku.
Masa kecil yang tak terpikir tentang,
Betapa begitu cepat waktu berlalu.

Dan sesudahnya tak pernah bertemu.

Solo, 30 maret 2006

Sumber: Blog Panggung Jiwa, 28 Juli 2007.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.