Abu Wafa (l. 1990) Menjelang Kiamat semula semua percaya tepat besok akan kiamat semua khidmat memanjatkan doa sepanjang hari tanpa berhenti sehingga lupa tidak bekerja sampai-sampai lupa tidak makan lupa […]
Puisi: Menunggu Banjir – Abu Wafa (l. 1990)
Abu Wafa (l. 1990) Menunggu Banjir kami bersahabat baik dengan air terutama yang berjumlah melimpah karena kolam renang sulit ditemui dan tiket yang mahal menjadi alasan utama ibu melarang: “lebih […]
Puisi: Cara Menghitung Anak – Abu Wafa (l. 1990)
Abu Wafa (l. 1990) Cara Menghitung Anak rahasia adalah santapan paling nikmat dengan bumbu-bumbu masa depan dan keingintahuan yang menggebu aku menawarkan, kau mengiyakan, menyerahkan tanganmu untuk kuramal berapa anakmu […]
Puisi: Hidup-Mati Dua Lelaki – Herry Gendut Janarto (l. 1958)
Herry Gendut Janarto (l. 1958) Sketsa Hidup-Mati Dua Lelaki Lelaki sekilas laiknya pejabat teras itu gusar tak keruan di depan petugas informasi bandara Metropolitan. Kalap semprot sana semprot sini dalam […]
Puisi: Sisa-sisa Segalanya – Irwan Bajang (l. 1987)
Irwan Bajang (l. 1987) Sisa-sisa Segalanya “siapa yang berhak mewakili suaraku, jika kalian pergi dan aku kehilangan kata-kata untuk mencegahnya?” siapa yang berhak mewakili semua kehilanganku jika tak pernah ada […]
Puisi: Migrasi dari Bibir ke Puisi – Gracia Asri
Gracia Asri Migrasi dari Bibir ke Puisi Berapa kardus yang kamu perlukan untuk mengemas dua belas tahun asap dan lima cangkir kopimu setiap hari? Aku mencarikan tali, perekat plastik hitam […]
