M. Balfas (1922-1975)Anak Pasar Gang sudah tersumbatmau terus mesti meloncatdari manusia berbondong-bondong.Rebut cepat, karcis kelas empat,kalau mau nonton lanjutan berita perang.Tapi awas, kaki jangan patah,Kau nanti nangis sendirianDi bawah telapak […]
Puisi: Pesta Kelasi – M. Balfas (1922-1975)
M. Balfas (1922-1975)Pesta Kelasi Kabut laluberhenti di muka lautMendung ini mengandung bius!Aku lari dar gunung jauhmau berlayar tidak jadisebab ombak pada mati Datang kelasitahu resia lautbahwa pesta gilatembus dinding butayang […]
Puisi: Jangan Kau Tanya -M. Balfas (1922-1975)
M. Balfas (1922-1975)Jangan Kau Tanya Aku minta jangan kau tanyaapa yang telah terjadidi suatu malam gembira,bulan yang berangkat besar pada kacasebesar bola, adalah saksiaku hanya alpa.Tapi kalau kau mau dakwa […]
Puisi: Jangan Aku Seorang – M. Balfas (1922-1975)
M. Balfas (1922-1975)Jangan Aku Seorang Kalau kau mauJangan tiup suling atau pukul tontong,tunggu, tunggu sajananti semua masuk jaringlalu tariklahseperti orang menyeret jala.Kalau kita semua sudah berantai satu,terikat oleh dosa alpa […]
Puisi: Buat Album Anak – M. Balfas (1922-1975)
M. Balfas (1922-1975)Buat Album Anak Aku tidak tahuApa masih ada juga tempatbagi kau Pat.Manusia-kapur dan batuAh, semua jadi pucat.Kau yang mau mengembaraMasuk petidikirim dari satu ke lain tempat.Rumah main di […]
Puisi: Musafir Mendaki Gunung – Samadi (1918-1958)
Samadi (1918-1958)Musafir Mendaki Gunung Jauh di tengah padang di bawah naungan pohon eru,Di mana kaki gunung turun melembah,Dan rumput gatil-gatilan menghijau sampai ke tepi rimba,Tempat air yang sejuk-sejuk,Dan angin membawa […]
Puisi: Hanya ‘Nak Tahu Bahwa Tak Tahu – Samadi (1918-1958)
Samadi (1918-1958)Hanya ‘Nak Tahu Bahwa Tak Tahu Selangkah mau ke padang ilmuSeribu kali bertambah dungu,Habislah rambut mencari ilmu,Hanya ‘nak tahu, bahwa tak tahu. Sumber: Senandung Hidup (Pustaka Jaya, 1975) lewat […]
Puisi: Filsafat dalam Bioskop – Husen Mulahele (1944-1988)
Husen Mulahele (1944-1988)Filsafat dalam BioskopSajak Gula-gula Cahaya datang menyentuh matakusetelah singgah padamu, seketikasetelah menyentuh gunung Cahaya turun meraba gunungsetelah pandangmu seketikasinggah meraba mataku Seketika Tiba-tiba ada tanganmu dalam gelapmemintalmintal jemariku. […]
Puisi: Rendezvous – Sajak Tauge -Husen Mulahele (1944-1988)
Husen Mulahele (1944-1988)Rendezvous – Sajak Tauge Kubuka topi dan ia terkejutAlangkah jauhnya jarak hidup kamiLalu gelisahnya, juga gelisahku terasa asing sekaliDan kasihanku terasa tak keramat lagi. Setelah dua tahun berpisah […]
