Dian Hardiana
Dari sebuah pohon
kekasihku lahir dan tumbuh
wajahnya mungil dan licin
merah basah-bulat dan padat
di bibirmu kita berpagutan
di mata mereka cemburu menyala-nyala
“mengapa memagutnya di depan seorang anak?
ketika suara belum tiba pada senja yang digariskan.”
Dari sebuah pohon
kekasihku mengenal cinta dan perpisahan
lebah madu dan musim gugur
mekar bunga dan buah ladu
di tanganmu kita bertemu dan berpisah
di dada mereka amarah menyentuh puncaknya
“mengapa kau mengirisnya di depan semua orang?
ketika panggilan belum tiba pada malam yang
terbuka.”
Engkau menahan jawaban, ucapmu berkibar lirih
dan perlahan.
Bandung, 2016
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 30 Oktober 2016
