Puisi: Buah Sukma Biduri – Arsyad Indradi (l. 1949)

Arsyad Indradi (l. 1949)
Buah Sukma Biduri

Palinggam Cahaya
Seratus empat puluh negri di laut
Seratus empat puluh negri di darat
Siapa yang bertahta tidak lain Raden Kasan Mandi
Adil bijaksana kasih sayang terpatri di dalam hati
Tujuh gedung harta buat derma fakir miskin
Siapa yang berbuat salah diampuni
Siapa yang berat hukuman diringani
Siapa yang dihukum mati di hidupi

Negri berasal hutan belantara
Tapi jiwa semangat membangun Maha Raja Bungsu ramanya
Berdiri negri beralam subur rakyatnya makmur
Kasan Mandi duduk di tahta penerus ramanya

Kasan Mandi tampak gelisah kadang duduk kadang berdiri
Tunduk tengadah ada yang dipikirkan
Akhirnya masuk juga ke dalam mahligai menemui Jung Masari isterinya

“Kakang rasa tidak keruan hati melihat keadaan Adingmas seperti ini
Ayu Dingmas katakan pada Kakang ada apa gerangan”
Jung Masari duduk di ranjang berlinangan air mata
Jung Masari tidak menyahut masih bertundukan
Tangannya menyusurnyusur ujung baju
Kasan Mandi rasa dihinggapi seratus awan kelam
“Adakah kesalahan Kakang sampai Adingmas bersedih seperti ini
Berhentilah Dingmas menangis
Katakan pada Kakang agar senang mendengar”
Jung Masari berdiri lalu memeluk suaminya
“ Kangmas tidak ada berkesalahan dengan siapasiapa apalagi dengan ulun
Sebelum ulun berucap ampunkan ulun Kangmas”
Kasan Mandi membelai rambut Jung Masari
“Tidak ada asalan Kakang memarahi orang yang tidak bersalah apalagi Adingmas Intan hati Kakang intan negri ini”
“ Ulun mengidam”
Mendangar ini tak terasa Kasan Mandi erat memeluk isterinya
Wajahnya sebagaimana matahari di timur yang sedang bersinar
Hatinya sebagaimana selaksa burung di pagi hari
“ Tapi Kangmas sebelum ulun meneruskan apa yang terkandung dalam diri ulun sampian ampunkan ulun Kakang”
Kembali Kasan Mandi menatap Jung Masari
“ Katakan Dingmas, sudah Kakang ampuni”
“ Rasanya rasa berat hati menyebutkan karena ulun tak mau menyusahkan sampian Kakang”
“Sebutkan Dingmas agar hati Kakang menjadi senang”
Jung Masari lalu berkisah
Jung Masari tak enak makan tak nyenyak tidur
Hari ke hari gelisah
Seleranya ingin benar memakan buah
Buahnya hanya sebiji di seribu ranting
Kasan Mandi terdiam mendengar
Tidak tahu apa nama buahnya dan dimana adanya
Tapi karena cinta benar pada isterinya :
“Biar sampai ke ujung langit sekalipun Kakang cari sampai dapat”

Kasan Mandi mundarmandir
Tunduk tengadah belum juga terbuka jalan
Lalu ingat dengan Paman Lamut
Kemudian memanggil Paman Lamut
Ujar Paman Lamut :
“Cepat bersemedi di dalam kelambu kuning “

Di asap dupa kemenyan
Mantra pancar cermin ditabur :
“ Tutus candi manyipat gunung
Gunung rubuh
Manyipat langit
Langit runtuh
Kupasak angin kencang ”
Seraya
Lepas tali empat sudut kelambu kuning
Berobah menjadi orang tua gemerlap

Sembah sujut di hadapan eyangnya
“ Aku tahu tungai apa yang ada di dalam hati cucunda
Kesinikan tapak tangan kanan aku cacak burung”
Setelah mencacak burung eyangnya bergaib keasalnya
Kasan Mandi melihati tapak tangannya
Terlihat buah di seribu ranting bernama buah sukma biduri
Letaknya di seberang lautan pulau angsana wangi
Ratusan jin yang menunggui

Dalam caritanya
Perahu Naga Sakti mengantar Kasan Mandi didampingi Paman Lamut
Berlayar menuju pulau angsana wangi
Segala rintangan dijalani
Gelombang segala gelombang dilalui
Bégal lanun yang mengganggu dibasbi

Di pulau angsana wangi
Terjadi peperangan sampai tujuh hari tujuh malam
Berpikir dalam hati Kasan Mandi
Kalau begini caranya sulit mengalahkan jinjin ini
Lalu Kasan Mandi mengungkit tanah dengan ibujari kaki kanannya
Dikepalnya di tangan
Lalu berdiri dengan kaki tunggal dan menengadah ke langit
Tanah di tangan dilemparkan ke matahari terbenam sambil
menyemburkan mantra petala jagat :
“ Asalnya tanah ke tanah asalnya api ke api
Asalnya air ke air asalnya angin ke angin
Kembali ke alam terjadiku
Siapa yang memandang diriku segala tunduk
Sebagaimana sujud di kakiku “
Seraya langit memancar kilatkilat angin ribut menggelugur
Hujan deras dengan petirpetirnya
Petirpetir menyambar jinjin lalu lumpuh
Seluruh jin takluk lalu menyerahkan buah sukma biduri
Paman Lamut melepas cincinnya
Lalu meniup cincinnya menjadi seekor rajawali
“ Cepat bawa buah sukma biduri ke hadapan Jung Masari katakan kami baikbaik saja “
Rajawali terbang menuju negri Palinggam Cahaya

Tarbang mengalunngalun semakin ke ujung semakin menghilang
Sampai disini pelamutan menyudahi lamutnya
Sebelum menutup pelamutan menarik napas panjang
Lalu berucap :
Aku ini sudah tua
Aku seoranglah yang tertinggal tiada siapasiapa lagi
Jika tiada yang meneruskan lamut bagaimana nasib senibudaya Banjar
Semoga lamut jangan terkubur bersama kuburku nantinya
Seraya
Tarbang melengking semakin meninggi
Suaranya dibawa angin menyusup ke hati orangorang yang tertunduk
menjenguki hatinya masingmasing

Banjarbaru, 2009

 

Catatan:
tutus candi = Keturunan raja ( Kasan Mandi )
manyipat = berjalan, menempuh, masuk
ulun = saya, aku (ucapan halus terhadap yang lebih tua )
sampian = kamu, anda (ucapan halus terhadap yang lebih tua )
lamut = teater tutur tanah Banjar
palamutan = orang yang membawakan lamut
tarbang = gendang sejenis rebana tapi agak besar

 

Sumber: Anggur Duka (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru; Kota Banjarbaru; 2009)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.