Puisi: Garis – Weslly Johannes

Weslly Johannes
Garis

Sudah terang di luar.
Bagai bau buku baru,
udara tahun baru masuk mengikuti cahaya,
waktu kubuka jendela kayu
dan dari gelas kaca
bayang tipis terlempar ke atas kertas.

Seperti tali kekang
pada leher seekor anjing,
pena di tanganku, bergerak
menyusur setapak pagi,
mengendus-endus baris yang masih sunyi,
melacak jejak petasan semalam,
berusaha menemukan bunyi,
tetapi justru garis kutemukan di mana-mana.

Lihat dua garis ini,
yang satu miring ke kanan,
berikutnya ke kiri,
seperti saling menyandarkan kepala,
pada waktu kutulis abjad pertama
yang malah menjelma atap sebuah rumah.
Di bawah naungannya,
dua garis lain, tegak menjadi pintu
dan lelaki tua tenteram
mengusap garis-garis waktu di dahinya.

Empat garis datang ke jendela,
membingkai setengah badanmu.
Kau kekal di pigura itu, berdiri
memunggungi sepatu di kaki lemari,
memandangi langit laut berciuman.
Bibir-bibir yang biru
tumpang-tindih menjadi garis, tipis
tak tertangkap jari manusia,
tak mungkin lagi dibelah dua.

Atas dermaga, sehelai garis putus
di dua tangan yang saling melepaskan.
Separuh helainya cekung di punggung
yang berlalu memanggul kehidupan.
Jauh di belakang kapal,
seutas garis perlahan memudar,
lalu sirna tersapu gelombang.
Dari bawah telapak kaki yang sendiri,
garis sunyi merayap masuk ke hutan,
lalu hilang di bawah pohonan.

Pagi ini, sementara aku di sini menulis
dan kau di tempat tidurmu menggeliat,
setitik embun lepas membentuk garis
yang di tanah pecah kembali
menjadi titik-titik air.
Garis berasal dari titik
yang pergi mencari titik terakhir
untuk menyempurnakan sebuah garis
pada tangan kecil yang pernah terbuka
menangkap titik-titik gerimis.

—Weslly Johannes (2020)

Sumber: Blog Semacam Puisi, 11 Januari 2021.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.